Sabtu, 16 Oktober 2010

TELAGA BIRU

DAHULU kala telaga itu biru. Lalu datang setan dan jin mengotorinya.Sekelompok manusia kemudian berhasil menghalau mereka dan akhirnya tersisih. Sayang ketika telaga Biru itu menjadi baik, mereka-mereka kemudian kembali lagi atas nama kompromi, dan juga mungkin balas jasa.Mereka kemudian menjelma lagi menjadi manusia.

ENTAH setan mana, dan jampi-jampi apalagi sehingga telaga biru kini kembali buram. Sekarang orang tak bisa lagi bercermin, karena buruk rupa cermin di belah.

Kali ini saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri.Tapi seperti kata orang-orang bijak.Kita tidak boleh menyerah pada keadaan.Seburuk apapun itu faktanya.

Buat penghuni danau biru, yang mulai berkompromi karena takut melarat, dan menggadaikan jernihnya air telaga karena balas jasa, saya menuliskan resahku pada air telaga biru.

Saya akhirnya mahfum kenapa saya benci sama tiga kata : KOMPROMI dan BALAS JASA.dan selalu menyukai akan kekuatan dua kata IKHLAS dan PENGABDIAN.Sebuah paradoks...


Makassar, 17 oktober 2010
Di sudut telaga biru

Tidak ada komentar: