UPI Asmaradhana, Koordinator Komite Perlindungan Jurnalis dan kebebasan Berekspresi (KPJKB), meraih penghargaan internasional berupa Hellman/Hammett Grant Award 2011. Penghargaan diberikan Human Right Watch, organisasi peduli HAM yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat.
Penghargaan itu diketahui Upi melelui rilis yang disiarkan dari New York, 14 September lalu. Upi adalah satu dari 48 penulis dari 24 negara yang menerima penghargaan Hellman/Hammett.
Dari Indonesia, selain Upi, Semuel Waileruny juga menerima penghargaan yang sama. Samuel adalah advokat yang menulis buku dengan judul Membongkar Konspirasi Konflik Maluku. Pada saat konflik di Maluku, Pemimpin Gereja-Gereja di Maluku memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Koordinator Tim Pengacara Gereja.
Penghargaan tahunan ini diberikan kepada penulis, termasuk jurnalis, blogger, penulis novel, pencipta lagu dan kartunis. Untuk tahun ini, masing-masing pemenang mendapat hadiah uang senilai US$ 10.000 atau lebih Rp 90 juta.
Penerima penghargaan ini adalah mereka yang dianggap memiliki komitmen dan keberanian dalam penegakan HAM bidang kebebasan berekspresi.
Dikonfirmasi via facebook, Upi yang sedang berada di Dublin, Irlandia, mengatakan juga baru mengetahui hal itu. “ Penghargaan ini saya dedikasikan untuk teman-teman jurnalis di Makassar,” ujar Upi.
Hellman-Hammett diberikan setiap tahun untuk para penulis di seluruh dunia yang menjadi sasaran penganiayaan politik atau penghargaan hak asasi manusia. Penghargaan ini sendiri didedikasikan Human Right Watch bagi penulis naskah Lilian Hellman dan novelis Dashiell Hammett dari Amerika. Keduanya dipenjara karena aktivitasnya.
Selama 22 tahun terakhir sejak penghargaan ini diberikan lebih dari 700 penulis dari 92 negara telah menerima Hellman/Hammett.
“Hellman Hammett akan kami dedikasikan buat gerakan penegakan kebebasan pers dan berekspresi di tanah air,” paparnya.
Penghargaan internasional ini, melengkapi daftar award yang diterimanya. Sebelumnya tahun 2009 Upi menerima penghargaan Udin Award dari AJI Indonesia, dan KPID Award 2010, kategori pejuang kebebasan pers.(jum)
(berita ini dikutip dari harian tribun timur edisi senin 19 september 2011)
Senin, 31 Oktober 2011
UPI Asmaradhana Raih Penghargaan Internasional
Diposkan oleh
upi asmaradhana
di
03:10
0
komentar
Minggu, 27 Maret 2011
Teror
Rumah Upi Asmaradhana Dibobol
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Rumah Koordinator Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi (KPJKB) Upi Asmaradhana di Bukit Sejahtera Blok A2/1, Sudiang, Makassar, dibobol seseorang , Sabtu (26/3) malam.
Upi baru mengetahui kejadian itu setelah tiba di rumahnya usai memberi materi pelatihan jurnalistik Politeknik Negeri Ujungpandang. "Kemungkinan kejadiannya pada pukul 23.00 wita," kata Upi kepada Tribun, Sabtu.
Upi menyimpulkan pelaku pembobolan masuk dari belakang dengan cara paksa. Ini karena pintu bagian belakang rumahnya rusak. Gembok hampir terlepas. Pelaku juga mengobrak-abrik kamar tidur dan kamar belakang.
"Lemari, kotak baju, dan buku semuanya terbongkar," kata Upi via telepon. Anehnya, Upi melanjutkan, pelaku sama sekali tidak mengambil barang. Televisi dan radio masih berada di tempatnya.
(dikutip dari tribun-timur)
Diposkan oleh
upi asmaradhana
di
04:33
0
komentar
Sabtu, 16 Oktober 2010
TELAGA BIRU
DAHULU kala telaga itu biru. Lalu datang setan dan jin mengotorinya.Sekelompok manusia kemudian berhasil menghalau mereka dan akhirnya tersisih. Sayang ketika telaga Biru itu menjadi baik, mereka-mereka kemudian kembali lagi atas nama kompromi, dan juga mungkin balas jasa.Mereka kemudian menjelma lagi menjadi manusia.
ENTAH setan mana, dan jampi-jampi apalagi sehingga telaga biru kini kembali buram. Sekarang orang tak bisa lagi bercermin, karena buruk rupa cermin di belah.
Kali ini saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri.Tapi seperti kata orang-orang bijak.Kita tidak boleh menyerah pada keadaan.Seburuk apapun itu faktanya.
Buat penghuni danau biru, yang mulai berkompromi karena takut melarat, dan menggadaikan jernihnya air telaga karena balas jasa, saya menuliskan resahku pada air telaga biru.
Saya akhirnya mahfum kenapa saya benci sama tiga kata : KOMPROMI dan BALAS JASA.dan selalu menyukai akan kekuatan dua kata IKHLAS dan PENGABDIAN.Sebuah paradoks...
Makassar, 17 oktober 2010
Di sudut telaga biru
Diposkan oleh
upi asmaradhana
di
08:44
0
komentar


