Kamis, 10 Desember 2009

RAHMAN SALEH

Saya tak mengenalnya.bahkan saya sudah lupa kapan kali pertama kami bersua dengannya.Namun belakangan saya semakin yakin ada yang salah dengan proses hukum yang melibatkannya.Lebih buruk lagi, ada banyak pejabat disana yang anti kritik, dan hendak membungkam kebebasan berpendapat.Kalau urusannya begini, saya kira kita semua harus membelanya.


PERTAMA kali saya datang ke parepare, sejumlah kalangan,khususnya jurnalis mempertanyakan alasan Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi turut campur dalam kasusnya.Maklum sosok Rahman di kalangan DPRD parepare termasuk pribadi yang kontroversial.

Namun saya tetap berkeyakinan, yang kami bela bukan Rahman pribadi.Kami membela "nilai" dan "semangatnya"yang kritis dan berani membela kepentingan masyarakat.Untuk urusan yang satu ini, sepertinya tidak ada tawar menawar lagi.

Di depan banyak pihak yang mempertanyakan hal itu, saya kemudian memberikan sebuah jawaban.Ada atau tidak ada dukungan saya pastikan kami akan berada di belakang rahman.Tema sentralnya adalah memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Logikanya begini? Jika masyarakat atau narasumber tidak bisa lagi kritis,maka yang jurnalis akan kehilangan narasumber.Jika media kehilangan narasumber, maka masyarakat tidak akan memperoleh berita-berita yang independen dan kritis.Media akan kehilangan fungsi kontrolnya dan akan menjadi media abal-abal semata.

****

Beberapa kali bertemu rahman, saya kemudian diperkenalkan seorang perempuan.saya tak mengenal namanya.namun perempuan itu adalah istri rahman. Istrinya sempat berkeluh kesah.sebagai manusia saya terenyuh dan tersentuh.apalagi kehadiran komite memberikan dorongan buat dirinya dan keluarganya.ia kemudian menceritakan bagaimana kehidupan keluarganya pasca suaminya berkasus. Apalagi sang suami tidak didukung oleh institusi tempat ia bekerja.

Belum termasuk, pihak-pihak yang seharusnya memberikan dukungan malah berpangku tangan.sebagai istri anggota DPRD yang hanya mengandalkan gaji sang suami, ia pun risau.bahkan teramat risau...

Dengan keterbatasan saya kemudian mencoba membesarkan hatinya.Saya lalu teringat pada diri saya sendiri.Mungkin begini ya rasanya perasaan seorang ibu ketika saya berkasus.

Kemudian saya bilang ibu seharusnya bersyukur mendapatkan suami seperti pak rahman.Menurutku saat ini banyak istri-istri yang kelimpungan,stress gara-gara ulah sang suami. Ada yang selingkuh, ada poligami, korupsi, mencuri dan mabuk-mabukan. Suami ibu berkasus justru karena membela yang dianggapnya benar.Dan itu seharusnya membuat ibu bersyukur.

kataku....ia hanya tertegun menatapku.

****

Pertemuan berikutnya dengan istri pak rahman. saya bergembira melihatnya. ia sudah sering tersenyum, bahkan ikut berdemo bersama kami saat peringatan hari HAM sedunia di PN Parepare.ia pun dengan muka cerah mengikuit proses persidangan suaminya.

****

Siang sekitar pukul 13.45 wita. di PN parepare seseorang mengajakku berdialog?
ia sempat bingung melihat aktifitasku saat ini. katanya hidupku tidak normal, hidup di jalan dan kesana kemari keliling mendampingi orang-orang bermasalah.

"kapan kak upi memikirkan diri sendiri?.saya ngeri melihat hidup kak upi ssaya ekarang," katanya.

saya tersenyum. Lalu saya menjawab, saya hanya ingin mencari kebaikan-kebaikan hidup,berbagai selagi masih bisa. Hidup bagimu mungkin pragmatis tapi saya berbagi.Dan saya menikmati hidup seperti ini.

****

banyak rahman saleh dan istri rahman diluar sana.Toh saya bersykur diberi kesempatan untuk membantu keluarga ini. saya memaknai bahwa perjuangan rahman saleh dilain sisi akan melahirkan resiko-resiko.tapi seperti yang saya jelaskan kepada pak rahman. kalau dia tidak akan bisa berhenti berteriak meski ia dipenjara.meski ia sendiri, atau meski ia diabaiakan masyarakatnya sendiri yang ia perjuangkan.perjuangan kadang memang kerap diliputi kesepian yang mendera.tapi rahman tidak sendiri. saya ada disana sekarang. disampingnya.


****

Banyak cara kita memaknai hidup. dan kali ini saya memaknainya sebagai sebuah karunia dan amanah Tuhan. saya bukan malaikat, bukan pula sinterklas apalagi dewa. saya hanya mencoba memberi apa yang saya bisa. memberi dorongan dan semangat kalau pak rahman dan istrinya kini tak sendiri lagi.Selamat berjuang pak rahman dan selamat menguji loyalitas bu rahman.sesungguhnya kalian adalah pelajaran berharga buatku..


Parepare 10 Desmber 2009
Hotel Bukit kenari
Seusai persidangan itu

Sabtu, 05 Desember 2009

MENGISI KEBAIKAN

Menempuh jarak ratusan kilometer, melewati sejumlah kabupatan dan lintas provinsi.Apa yang kamu cari?Mengisi kebaikan kataku...


Rabu 2 Desember 2009, seusai menggelar Diskusi Publik Kriminalisasi Media, Ancaman Baru kebebasan Pers:Menyikapi Putusan Pailit TPI, yang dihadiri Pemred TPI Ray Wijaya,dan Direktur Keuangan TPI Ruby Pandjaitan, kami langsung bergegas ke Pare-pare.

sebelum ke Pare-pare,kami terlebih dulu singgah di Kabupaten Soppeng untuk mempersiapkan pelatihan jurnalistik 12-13 Desember mendatang.

Di Pare-pare, kami kemudian mengikuti Diskusi Publik kebebasan Berekspresi versus Pencemaran Nama Baik di Hotel Kenari.Diskusi ini khusus membahas kasus anggoat DPRD parepare Rahman Saleh yang digugat ke pengadilan oleh mantan kapolres parepare lantaran komentar kritisnya di koran.

Usai diskusi kami kemudian menghadiri sidang sang anggota DPRD dari fraksi PKS ini,bersama Aswar Hasan Ketua KPID Sulsel, Ana Rusli pengurus AJI Kota Makassar yang hari itu memberikan kesaksian di persidangan.

Usai sidang,kami langsung menuju Kabupaten Majene Sulawesi Barat. Di provinsi yang baru dimekarkan ini,kami dua hari mengikuti pelatihan jurnalistik.

5 Desember bertempat di tugu dua anak cukup,bersama jurnalis Sulbar kami menggelar aksi buat Prita dan setelah itu malamnya kami langsung balik menuju Soppeng untuk mempersiapkan pelatihan jurnalistik.

****

sibuk? tentu.tapi saya menikmati perjalanan.meski melelahkan,karena menempuh jarak ratusan kilometer tentunya.saya malah menyebutnya sebagai perjalanan membagi energi positif. tentu ini diharap akan membawa hal-hal positif, atau katakanlah sebagai upaya berbagi dan mencari pahala atau mengisi kebaikan.

Mengisi kebaikan?iya, hidup ini memang perlu dimaknai sebagai perbuatan untuk menolong sesama dan mengabdikan hidup untuk kebajikan dan peradaban.

Berbuat baik, menolong sesama, berbagi untuk siapa saja terutama bagi orang-orang yang didzalimi, sepertinya menjadi hal yang selalu menarik-narik diriku di dalam kondisi itu.

saya sendiri nyaris tak percaya?apakah saya punya kekuatan untuk itu?tapi anehnya,semakin lama kita berbuat, semakin banyak pula energi yang diberikan Tuhan.

dan kelelahan-kelelahan yang saya alami pun malah menjadi hal-hal yang menjadi pendorong untuk berbuat lebih baik lagi.Memcoba memberi makna meski itu sederhana.

dan ketika, tubuh ini berjalan di atas harapan,saya akhirnya menyadari tujuan untuk apa saya hidup.Saya akhirya menemukan diriku sendiri dan memahaminya sebagai pencapaian tertinggi menuju kualitas hidup.saya akhirnya sadar tuhan tuhan menitip keresahan itu pada diriku dan saya menyebutnya mengisi kebaikan-kebaikan setiap harinya.

Hotel Makmur Soppeng
6 Desember 2009
pukul 09.43 wita

Rabu, 18 November 2009

BAHAR

Kita tidak boleh membiarkan siapa saja seenaknya menghalang-halangi tugas jurnalis. Apalagi jika sampai menggunakan tindakan kekerasan, seperti pemukulan.Memukul jurnalis berarti menganiaya rasa keadilan masyarakat dan menciderai hak publik untuk mengetahui.

Bahar jurnalis Sindo itu dipukuli oleh Andi bahtiar orang dekat pejabat lokal setempat yang diduga orang suruhan saat liputan di BKD Bulukumba. Bahar dan teman-teman se jurnalis Bulukumba yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Bulukumba kemudian berdemo dan memprotes aksi itu.Bahar tak lupa mengadukan nasibnya ke polisi.

Dari Makassar, kabar ini sampai ke telinga kami.Bersama teman-teman, dari AJI,PJI, IJTI, Pewarta Foto, saya mengontak Bahar dan sejumlah jurnalis di Bulukumba.Satu kata lawan!!!

Sejak awal saya bertekad akan membantu anak ini. Bahar harus diberikan semangat untuk melawan.apalagi sebelumnya ia diteror dan diancam akan dihabisi.

Saya kemudian ke Bulukumba dan melakukan verifikasi,dan hasilnya. Bahar telah menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan untuk menakut-nakutii wartawan disana.Jurnalis Bulukumba memang terkenal kritis dan orang-orang disana juga kurang suka dikiritik.Kasus bahar bukan yang pertama.

****

Banyak orang bertanya untuk apa membela Bahar?Pertama saya tidak memiliki kedekatan historis dengan dia.Satu-satunya hal yang bisa mengingatkan saya, Bahar, pernah menjadi mahasiswa saya di Stikom Fajar dulu, sekarang Universitas Fajar.

Selain itu tidak ada.Malah saya sempat lupa siapa dia.nanti ketemu baru ngeh.

Alasan lainnya. anak ini tidak boleh dibiarkan sendiri. Untuk ukuran jurnalis pemula,sosok Bahar terbilang pemberani.Perangainya sabar dan cool, tapi kritis dan independen. Saya kemudian mengagumi sikapnya.

Karenanya,ketika berbicara langsung dengannya pertama kali di Bulukumba,saya semakin yakin pembelaan terhadap Bahar harus saya lakukan sebaik dan semaksimal mungkin.

Anak ini punya visi dan prospek jurnalis yang baik. Kerap pula saya amati, dia anaknya penyabar dan setia pada profesi.tipikal jurnalis yang menurutku bagus untuk profesi ini. Saya malah berkali-kali menawarinya untuk sementara masuk ke Makassar saja dulu saat dia mendapat ancaman pembunuhan. "Saya disini saja kak,biarkan saja saya hadapi," katanya.


****

Rabu 18 november 2009, saya ke Bulukumba, menumpang mobil Sindo yang diberikan Pemred Sindo Makassar, Muhramal Aziz, saya berangkat setelah shalat Subuh. Dalam pikiran saya, saya membayangkan perasaan Bahar saat ini. Saya sadar betul bagaimana nasib jurnalis yang dalam kondisi tertekan akibat diproses secara hukum,meski dalam hal ini Bahar sebagai korban.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, saya akhirnya tiba di Bulukumba, Diujung sana, di perbatasan jembatan kota Bulukumba. Bahar seorang diri menunggui saya dengan motornya.

Saya terharu melihat dia. Matanya tetap bersemangat meski dari raut mukanya tersimpan keresahan. Saya dan seorang mahasiswa Tamsir yang menemamiku subuh itu hanya bisa melihat raut mukanya yang tertawa melihat kami datang.


***

Seharian saya menemani Bahar, saya berusaha menyampaikan pesan kalau ia tidak sendiri. Termasuk dukungan kantornya dan bosnya Muhramal. Saya juga menyampaikan sebuah pesan perlawanan untuk hal besar harus tetap dihadapi,ada atau tidak ada dukungan. Dan Bahar menyadari itu.Apalagi teman-temannya cukup solider. Disana ada Samba Tribun Timur, Ifa Metrotv, Sri TVone, Fitto SCTV, Adnan Radar, dan sejumlah jurnalis lainnya.

Bahkan ada rekannya yang tetap menunggui dia kemana saja. Saya mengagumi semangat kebersamaan mereka di Bulukumba dan ini membuat saya bergairah.

****

Pukul 20.00 wita, saya kemudian balik ke Makassar, saya semakin menyadari hidup itu harus berbagi seberapapun itu kemampuan kita. Saya semakin yakin kalau apa yang saya lakukan ini tidak akan sia-sia meski pada akhirnya Bahar atau siapaun juga harus berhadapan dengan hukum yang serba bisa dibeli.

Sayang saat ini keterbatasan pun menaungi, sehingga tidak mampu memberi apapun kepada mereka, termasuk untuk mentraktir mereka makan sekalipun.Sedih juga atas kondisi ini.

Tapi saya bangga kepada mereka. Bangga akan semangat mereka, bangga akan soliditis mereka, bangga akan perlawanan mereka, dan bangga akan idealisme mereka.

Saya faham perjuangan mereka akan sulit,di tengah sikap polisi,JPU, dan hakim yang menolak menggunakan UU Pers dalam kasus ini.Tapi bagaimanpun juga tetap harus dilawan.Setidaknya membuktikan kalau jurnalis itu juga punya nyali.

Kebanggaan itu yang membuat saya nyaris tidak lelah malam itu,dengan hanya menempuh perjalanan dari Bulukumba hanya dalam waktu 2 jam 15 menit.Tuhan beri aku waktu untuk mendampingi anak-anak pejuang dan generasi jurnalis penerus ini....

Makassar
19 november 2009
kepada semangat para petarung. Jangan berhenti berlawan demi idealisme dan integritas profesi jurnalis kalian.Tetap berlawan