Senin, 31 Mei 2010

PERINGATAN HARI HAK JAWAB

PEKERJA pers di Sulawesi Selatan masih rawan mengalami kekerasan. Terutama jurnalis yang bekerja di daerah yang jauh dari pusat kota. Kekerasan yang menimpa Amrullah Basri, jurnalis Fajar, di Kabupaten Takalar, pekan lalu, adalah salah satu contohnya.

Dibanding memberi hak jawab pada media massa, mereka yang merasa terpojok dengan pemberiaan media massa, sebagian memilih melakukan tindak kekerasan terhadap jurnalis dibanding menggunakan hak jawab.

Hal itu mengemuka pada diskusi dalam rangka peringatan Hari Hak Jawab sekaligus hari jadi Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers di Kafe Merasa, Jl Hertasning, Makassar, Senin (31/5).

Diskusi ini diprakarsai Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar bekerja sama dengan Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers (KJTKP) Makassar dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulawesi Selatan.

Diskusi yang dipandu Koordinator KJTKP Makassar Upi Asmaradana ini menghadirkan Ketua PJI Sulsel Nasrullah Nara, Ketua AJI Kota Makassar Mardiana Rusli, Direktur LBH Makassar Abdul Muttalib, dan anggota Dewan Etik AJI Makassar M Nawir.

Menurut Nawir, ada kecenderungan penguasa di daerah itu menganggap berita di media massa yang mengeritiknya dianggap hal yang bisa memalukannya. Sehingga jurnalis yang melakukan kontrol sosial tersebut memang rawan menjadi korban tindak kekerasan.(jum/jid)

(dikutip dari tribun-timur edisi 1 juni 2010)

Tidak ada komentar: