Rabu, 18 November 2009

BAHAR

Kita tidak boleh membiarkan siapa saja seenaknya menghalang-halangi tugas jurnalis. Apalagi jika sampai menggunakan tindakan kekerasan, seperti pemukulan.Memukul jurnalis berarti menganiaya rasa keadilan masyarakat dan menciderai hak publik untuk mengetahui.

Bahar jurnalis Sindo itu dipukuli oleh Andi bahtiar orang dekat pejabat lokal setempat yang diduga orang suruhan saat liputan di BKD Bulukumba. Bahar dan teman-teman se jurnalis Bulukumba yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Bulukumba kemudian berdemo dan memprotes aksi itu.Bahar tak lupa mengadukan nasibnya ke polisi.

Dari Makassar, kabar ini sampai ke telinga kami.Bersama teman-teman, dari AJI,PJI, IJTI, Pewarta Foto, saya mengontak Bahar dan sejumlah jurnalis di Bulukumba.Satu kata lawan!!!

Sejak awal saya bertekad akan membantu anak ini. Bahar harus diberikan semangat untuk melawan.apalagi sebelumnya ia diteror dan diancam akan dihabisi.

Saya kemudian ke Bulukumba dan melakukan verifikasi,dan hasilnya. Bahar telah menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan untuk menakut-nakutii wartawan disana.Jurnalis Bulukumba memang terkenal kritis dan orang-orang disana juga kurang suka dikiritik.Kasus bahar bukan yang pertama.

****

Banyak orang bertanya untuk apa membela Bahar?Pertama saya tidak memiliki kedekatan historis dengan dia.Satu-satunya hal yang bisa mengingatkan saya, Bahar, pernah menjadi mahasiswa saya di Stikom Fajar dulu, sekarang Universitas Fajar.

Selain itu tidak ada.Malah saya sempat lupa siapa dia.nanti ketemu baru ngeh.

Alasan lainnya. anak ini tidak boleh dibiarkan sendiri. Untuk ukuran jurnalis pemula,sosok Bahar terbilang pemberani.Perangainya sabar dan cool, tapi kritis dan independen. Saya kemudian mengagumi sikapnya.

Karenanya,ketika berbicara langsung dengannya pertama kali di Bulukumba,saya semakin yakin pembelaan terhadap Bahar harus saya lakukan sebaik dan semaksimal mungkin.

Anak ini punya visi dan prospek jurnalis yang baik. Kerap pula saya amati, dia anaknya penyabar dan setia pada profesi.tipikal jurnalis yang menurutku bagus untuk profesi ini. Saya malah berkali-kali menawarinya untuk sementara masuk ke Makassar saja dulu saat dia mendapat ancaman pembunuhan. "Saya disini saja kak,biarkan saja saya hadapi," katanya.


****

Rabu 18 november 2009, saya ke Bulukumba, menumpang mobil Sindo yang diberikan Pemred Sindo Makassar, Muhramal Aziz, saya berangkat setelah shalat Subuh. Dalam pikiran saya, saya membayangkan perasaan Bahar saat ini. Saya sadar betul bagaimana nasib jurnalis yang dalam kondisi tertekan akibat diproses secara hukum,meski dalam hal ini Bahar sebagai korban.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, saya akhirnya tiba di Bulukumba, Diujung sana, di perbatasan jembatan kota Bulukumba. Bahar seorang diri menunggui saya dengan motornya.

Saya terharu melihat dia. Matanya tetap bersemangat meski dari raut mukanya tersimpan keresahan. Saya dan seorang mahasiswa Tamsir yang menemamiku subuh itu hanya bisa melihat raut mukanya yang tertawa melihat kami datang.


***

Seharian saya menemani Bahar, saya berusaha menyampaikan pesan kalau ia tidak sendiri. Termasuk dukungan kantornya dan bosnya Muhramal. Saya juga menyampaikan sebuah pesan perlawanan untuk hal besar harus tetap dihadapi,ada atau tidak ada dukungan. Dan Bahar menyadari itu.Apalagi teman-temannya cukup solider. Disana ada Samba Tribun Timur, Ifa Metrotv, Sri TVone, Fitto SCTV, Adnan Radar, dan sejumlah jurnalis lainnya.

Bahkan ada rekannya yang tetap menunggui dia kemana saja. Saya mengagumi semangat kebersamaan mereka di Bulukumba dan ini membuat saya bergairah.

****

Pukul 20.00 wita, saya kemudian balik ke Makassar, saya semakin menyadari hidup itu harus berbagi seberapapun itu kemampuan kita. Saya semakin yakin kalau apa yang saya lakukan ini tidak akan sia-sia meski pada akhirnya Bahar atau siapaun juga harus berhadapan dengan hukum yang serba bisa dibeli.

Sayang saat ini keterbatasan pun menaungi, sehingga tidak mampu memberi apapun kepada mereka, termasuk untuk mentraktir mereka makan sekalipun.Sedih juga atas kondisi ini.

Tapi saya bangga kepada mereka. Bangga akan semangat mereka, bangga akan soliditis mereka, bangga akan perlawanan mereka, dan bangga akan idealisme mereka.

Saya faham perjuangan mereka akan sulit,di tengah sikap polisi,JPU, dan hakim yang menolak menggunakan UU Pers dalam kasus ini.Tapi bagaimanpun juga tetap harus dilawan.Setidaknya membuktikan kalau jurnalis itu juga punya nyali.

Kebanggaan itu yang membuat saya nyaris tidak lelah malam itu,dengan hanya menempuh perjalanan dari Bulukumba hanya dalam waktu 2 jam 15 menit.Tuhan beri aku waktu untuk mendampingi anak-anak pejuang dan generasi jurnalis penerus ini....

Makassar
19 november 2009
kepada semangat para petarung. Jangan berhenti berlawan demi idealisme dan integritas profesi jurnalis kalian.Tetap berlawan

Tidak ada komentar: