Minggu, 11 Oktober 2009

3 HARI 3 PULAU

Tuhan itu selalu menunjukkan kepada kita untuk selalu bersyukur.Dan kita tak ubahnya debu yang tak ada apa-apanya di banding dengan kekuasaan-NYA.

Sabtu pagi (10/10/09),sekitar pukul 05.30, usai shalat shubuh saya langsung bergegas ke rumah Pak Onny. Bersama dia, saya kemudian menuju Bandara Hasanuddin Makassar.

Tujuan kami, Padang, Sumatera Barat.Salah satu daerah yang menjadi korban gempa yang mengguncang bumi sumatera 30 september 2009 lalu.

Saya, sendiri berangkat untuk menyampaikan amanah sumbangan kawan-kawan jurnalis Makassar yang selama hampir sepekan ini,aktif mengumpulkan sumbangan.Hasil derma ini memang ditujukan kepada para jurnalis Padang dan keluarganya yang sebenarnya juga menjadi korban gempa.Sayang,karena tugas mereka, para jurnalis ini sering diabaikan.

****

Setelah menempuh perjalanan selama dua Jam dari Makassar, kami berdua,tiba di Jakarta.Perlu satu jam menunggu untuk terbang lagi ke Padang.Perjalanan ini sendiri,kami tempuh satu setengah jam,sebelum kaki kami menjejalkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau.

****

Setiba di Padang,kami langsung bergerak. Pak Ony yang tercatat sebagai Koordinator Relawan Panin Peduli,langsung mengadakan briefing dengan timnya,yang sudah berada di Padang Pariaman dua hari pasca gempa.

Saya di temani kawan Aswad dari Fajar, dan Muh Fadly jurnalis dari Pos Metro Padang,kemudian bergerilya melakukan pengumpulan data tentang jurnalis yang menjadi korban gempa di sana.

Saya kemudian berkunjung ke Padang TV dan Padang Ekspress. Disana kami mendapat informasi tentang sejumlah jurnalis dan keluarganya yang menjadi korban.

****

Malam kami kemudian bertemu Nurul Hadi,salah seorang jurnalis lokal padang yang anak sulungnya Angga tewas tertimpa rerentuhan Gedung GAMA.Saat itu juga,bantuan langsung kamis erahkan ke Nurdin bersama istri dan anaknya yang kini telah mengungsi ke kantornya.

Dari Nurul kami kemudian bergegas ke Kantor AJI Padang.Di sini kami bertemu dengan Hendra dan menyerahkan bantuan ke pengusu AJI Padang.


****

Keesokan harinya, kami kemudian menuju Padang Pariaman.Berbeda dengan kota Padang,kabupaten Pariaman memang kondisinya cukup parah.hampir semua bangunan rumah di sepanjang perjalan rubuh.termasuk sejumlah masjid, surau dan langgar.Saya lalu kemudian tersadar, sesungguhnya kita ini tidak ada apa-apanya di mata Tuhan.Tuhan dengan segala kebesarannya bahkan bisa berbuat apa saja,jika dia mau.Dan kali ini, Tuhan kembali menunjukkan tanda-tanda kebesarannya.

Semula kami berencana ke Bukit Tinggi dan Danau Maninjau,namun karena beratnya medan penyaluran bantuan, rencana itu kami tunda.

Di sepanjang jalan,banyak warga yang berdiri menunggu bantuan.Sungguh pemandangan yang miris. Sejumlah warga hanya berdiri terpaku di depan bangunan rumahnya yang sudah rata dengan tanah."Kemana bantuan itu,"...

*****

Senin, 12 Oktober 2009, keberangkatan kami tertunda. Ada kesalahan teknis saat Pak Ony membooking tiket.Jadual yang semestinya 07.00 WIB di Cengkareng molor hingga pukul 14.45. Tapi kami berdua hanya pasrah. "Ini peringatan dari Tuhan, "kata Pak Ony.saya pun hanya mengiyakan,setuju.Kami berdua pun pasrah.Toh sekalian menguji kesabaran.

****

Tiga hari perjalanan dari Makassar,Jakarta, Padang. Itu berarti hanya dalam waktu 3X24 jam kami sudah mendatangi tiga pulau.Luar biasa. Tuhan kadang juga terlalu banyak memberi kemudahan dan keindahan.

Saya kemudian berusaha menyelami arti perjalanan ini.Dan saya menemukan jawabannya: Manusia itu tak punya arti apa-apa di mata Tuhan. Harta, Jabatan, Kekayaan, dan apapun kebanggaan-kebanggaan materi pada akhirnya akan kita tinggalkan juga. Kita pasti akan bertemu dengan maut, dan Tuhan tidak pernah akan memberikan tanda kepada kita,kapan kita kembali ke tanah.


Dalam kesempatan menunggu kali ini, saya akhirnya menjadi malu pada diriku sendiri.dan mudah2an kita semua bisa berarti bagi banyak orang.Dan tetap mendedikasikan hidup kita untuk peradaban dan kemanusiaan.

(Sunda Kelapa Lound Terminal F Bandara Soekarno Hatta JKT, pukul 10.30 WIB)

Tidak ada komentar: