Senin, 28 September 2009

TANPA SYARAT

BERCERMIN pada pengalaman hidup.saya akhirnya sadar,bahwa hidup itu indah jika apa yang kita lakukan dilandasi oleh ketulusan.tanpa pamrih.ikhlas dan tentu saja tanpa syarat.

HAKIM agung Artidjo Alqotsar, dalam sebuah acara berkata: Para pembela kebenaran harus selalu siap kesepian.Tapi bendera perlawanan harus tetap dikibarkan.

Lamat-lamat saya menyelami kata-kata itu dengan sangat amat tekun.Apa perlu kita harus sepi.Lalu darimana datangnya rasa itu.

Saya pun kemudian menanggapi pernyataan tersebut, dan mengatakan tidak selamanya para pembela kebenaran itu kesepian.Karena kita selalu dikelilingi oleh orang-orang yang setia pada semangat kita.Setelah pertemuan itu,salah seorang jurnalis jakarta,menghampiri dan bertanya: Kenapa Mas upi tidak merasa kesepian?

Saya kemudian menjawabnya? Pertama saya bukanlah pejuang,saya bukanlah pembela kebenaran.Saya adalah manusia biasa,yang mencoba melakukan hal terbaik menurut keyakinan seorang manusia.Saya yakin kalau apa yang saya lakukan semata-mata kecintaan saya terhadap profesi jurnalis.Titik.Apa yang kami lakukan adalah sebuah pengorbanan tampa pamrih.Niatnya suci.

Kedua, apa yang saya lakukan selama ini dilandasi oleh ketulusan.Sehingga jika saya gagal,ataupun saya tak memiliki apa-apa lagi, saya tentu tidak akan kecewa.sebab semuanya sudah diihklaskan.

Sang jurnalis itupun terdiam beberapa saat.Tak ada pertanyaan dan tak ada jawaban.Kami pun larut dalam suasana hati masing-masing.Ia mungkin menyelami jawaban-jawabanku,dan sebaliknya aku menyelami pertanyaannya.

*****

Ketika, banyak orang yang pergi ketika kita membutuhkan, itu adalah sebuah realitas hidup. Dan saya tidak pernah sedih ketika ditinggalkan,kenapa? karena saya ikhlas terhadap mereka.

Dulu, kantor tempat saya bekerja, memberikan dukungan penuh pada gerakan melawan kriminalisasi pers.Tapi mereka kemudian meninggalkanku. Menurutku ini luka teramat paling dalam yang sulit diterjemahkan secara akal sehat. karena pada akhirnya saya harus kehilangan pekerjaan yang begitu aku cintai. Tapi akhirnya saya ikhlas.

Dulu, banyak teman yang selama ini bersama saya, membangun sebuah kesadaran ideologi tentang pentingnya kebebebasan, tapi mereka kemudian berpaling,bahkan menikam dari belakang.Tapi akhirnya saya ikhlas.

Dulu, banyak pihak yang selama ini bersama saya, bersatu dalam kata, dan berjalan dalam satu ikatan moral, tapi kemudian mereka memanfaatkan,bahkan mengambil keuntungan pribadi,kelompok dan golongan.Tapi akhirnya saya ikhlas.

Dulu, saya selalu ramai, dan satu persatu,kawan-kawan itu pergi, mengurusi masalahnya sendiri,dengan alasannya masing-masing, serta caranya masing-masing.Tapi saya iklhas.

Dulu, ada orang yang memberikan cintanya,lalu kemudian menanggalkan asanya.lalu aku hampa.Tapi saya iklhas.

Dulu ada orang yang memberikan jiwanya,lalu kemudian datang memberikan mimpi-mimpi indah. saya terbuai, tapi dia kemudian mengajukan syarat. Saya terpekur, kapan hidup itu tidak dilandasi pamrih.

*****

Saya kemudian mengambil jalan tengah.Biarkan rasa tulus memberikan jalannya sendiri.Seperti matahari yang setia menerangi bumi di waktu siang,dan rembulan di waktu malam.

Lalu saya memutuskan tak merasa terganggu dengan pilihan-pilihan itu.Saya justru semakin belajar untuk tidak kecewa lagi.Bukankah setiap manusia memiliki kepentingan dan cara pandang mereka sendiri.

Ada banyak argumen yang membuat kita harus menerimanya sebagai manusia.Selain pragmatisme juga karena tuntutan hidup.

Amat sangat naif,jika saya kemudian harus marah,harus benci,apalagi harus memakinya.Toh biarkan saja,mereka mencari jalannya masing-masing.Bukankah itu semua adalah hal yang manusiawi?

Saya toh selalu iklhas memberikan semuanya.Saya tak pernah merasa ditinggalkan meski pada hakekatnya saya telah dicampakkan.Saya tak pernah merasa dicurangi meski pada dasarnya saya telah dikhianati.Saya tak pernah merasa dikucilkan meski pada dasarnya saya telah dibohongi. dan saya tak pernah merasa tak dicintai dan disayangi meski pada akhirnya diriku telah dinihilkan.

Hidup ini, memang seharusnya dilandasi rasa tulus tanpa syarat.Kita berbuat tanpa syarat,berbakti tanpa syarat, dan mencintai tanpa syarat.

Kali ini setidaknya,saya mesti bersyukur kepada Sang Maha Sempurna, sebab masih bisa memberikan sesuatu di tengah kekurangan yaitu mencoba memberi yang terbaik untuk keluarga,terutama adik kesayangku. Saya berharap kelak dia yang memanjatkan doa untukku dikala aku terbaring kaku di pusara tanpa nama.

Kali ini, saya menemukan ketulusan di adikku itu.Saya akhirnya merasa yakin kalau dia kerap mendoakanku.Toh dia memang selama ini juga tampa pamrih dan tanpa syarat padaku.Buktinya,dia tidak pernah rewel ketika telat dikirimkan uang kuliah dan biaya hidupnya, dan selalu memahami kekurangan pada diri kakaknya yang kerap mengabaikannya untuk orang lain.Kali ini saya belajar ketulusan pada adikku...


makassar, 29 september 2009
pukul 00.30 wita
untuk setiap tanya yang bertanya kenapa?
karena kamu mencintaiku dikala aku tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa,maka aku akan mencintaimu tanpa syarat.Lalu maukah kamu mencintai tanpa syarat?

Tidak ada komentar: