Senin, 18 Mei 2009

KARENA AKU MENCINTAIMU

Pada tahun 470 Sokrates memilih mati demi keyakinannya. Kali ini aku memilih hidup untuk membela para jurnalis, agar mereka bisa tenang bekerja di news roomnya, mereka bisa pulang kepelukan istri, anak, suami di rumahnya tanpa kekhuatiran dipanggil polisi, dan keesokan harinya, bergegas meliput untuk memenuhi hak publik untuk mengetahui.Sesungguhnya aku mencintai kalian lebih dari Socrates mencintai keyakinannya..


18 mei 2009, hari ini adalah sidang ke-14 kasus penghinaan yang didakwakan kepada saya di pengadilan Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Sidang ini sangat istimewa, karena saksi Ahli Prof Dr Aswanto pakah hukum pidana HAM Unviversitas Hasanuddin, akhirnya datang juga.

Istimewa, sebab, baru kali ini Prof Aswanto hadir,sebelumnya, sejak sidang ke-12 dan Sidang ke-13, Guru Besar Fakultas Hukum Unhas ini tidak pernah hadir, dan kali ini membuat pernyataan yang membuat bulu kuduk saya berdiri: UU Pers itu Lex specialist katanya. Sehingga jika ada persoalan hukum yang terjadi akibat sengketa pers, maka seharusnya mendahulukan UU Pers No 40/1999.

Kekhususan ini yang menjadi pembeda, sebab, jurnalis bekerja untuk kepentingan publik. Sehingga jika ada pejabat publik, dalam hal ini, penguasa, atau pemerintah dikritik oleh media, maka seharusnya, para penguasa itu menggunakan mekanisme UU Pers sebagai pranata hukum. Bukan dengan mempidanakan jurnalis itu sendiri.

Ruang sidang hari ini, membuat saya bersemangat sepenuh hati. Meski, pada akhirnya, Majelis Hakim, tentunya tidak akan serta merta menjadikan kesaksian prof Aswanto ini, sebagai piranti utama untuk menjatuhkan vonis. Namun setidaknya, saya merasa tidak sendiri dalam menafsirkan tentang pentingnya mekanisme Hak Jawab digunakan oleh setiap orang.

Media, seharusnya memang dilindungi, agar mereka bisa bekerja dengan tenang, sebagai salah satu pilar demokrasi.

****

Menjalani hari-hari persidangan pidana, dan gugatan perdata sesungguhnya telah menyita banyak waktu. Tapi ini sudah pilihan hidup. Kadang orang-orang terdekat saya, termasuk keluarga saya jenuh melihat proses ini. Bahkan, beberapa yang harus memilih jalan lain di sebuah titik persimpangan yang kerap saya pahami sebagai sebuah resiko.

Tapi, toh ini tetap tak membuat saya bergeming. Hari-hari belakangan ini, saya malah semakin yakin, bahwa setiap perjuangan, membela kepentingan banyak orang itu, adalah sebuah ibadah. Saya juga semakin yakin, setiap kesusahan-kesusahan yang ditimbulkan akibat apa yang kami yakini baik untuk para jurnalis dan masyarakat itu adalah sebuah amanah, yang tak boleh membuat kita berhenti.

Dan disetiap saat, saya hanya berdoa, dan setiap saat memperbaharui niat dan ketulusan, agar jalan ini tidak menimbulkan fitnah.

Karenannya. ketika satu persatu kebahagiaan itu pergi dari gengaman ini, saya hanya bisa memaknainya sebagai buah dari perjuangan jika itu dinamakan perjuangan.

Sesungguhnya, saya sangat mencintai kalian. Sehingga jika kalian menikam saya dari belakang pun saya tetap akan menerimanya, dan mendoakanmu kiranya kalian diberi ampunan.

****

470 tahun silam, Socrates memilih mati dalam keyakinannya. Ia meminum racun yang diserahkan kepadanya.Saya tentunya bukanlah Socrates, saya juga bukanlah pahlawan, atau bukanlah apa-apa, dan bukanlah pula siapa-siapa. Saya hanya seorang manusia diantara milyaran manusia di muka bumi ini, yang berusaha berguna bagi hidup. Sederhana. Cita-citanya membuat hidup ini bermakna dan berguna.

Sebab sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bisa mengabdikan dan berguna untuk orang banyak.Dan karena aku mencintai kalian, aku sesungguhnya telah memahat kalian dihatiku. Kalian akan saya jadikan arca dan mahligai hidup yang akan saya bawa hingga akhir.

Mencintai kalian, adalah sebuah kehormatan, dan aku mendedikasikannya untuk peradaban. Karenanya,jika Sokrates memilih mati demi keyakinannya. Kali ini aku memilih hidup untuk membela para jurnalis, agar mereka bisa tenang bekerja di news roomnya, mereka bisa pulang kepelukan istri, anak, suami di rumahnya tanpa kekhuatiran dipanggil polisi, dan keesokan harinya, bergegas meliput untuk memenuhi hak publik untuk mengetahui.Sesungguhnya aku mencintai kalian lebih dari Socrates mencintai keyakinannya.

makassar, tanah keyakinan
18 mei 2009
seusai malam menjemput senja

Tidak ada komentar: