Sabtu, 10 Januari 2009

RESOLUSI 2009

Hidup itu terlalu pendek untuk tidak dibuat berarti.Berbuat baik dan bahagiakanlah orang-orang selagi ada kesempatan, niscaya hidup kita akan bermakna (resolusi 2009)

PERLU sepuluh hari lamanya, baru saya bisa menemukan sebuah resolusi hidup di 2009.Maklum disaat semua orang sedang berpesta pora menyelenggarakan prosesi pergantian tahun, saya masih harus "berkelahi" dengan sakit.

Dan ternyata, ada juga manfaatnya badan ini sakit. Paling tidak, kita bisa melakukan flasback atas apa yang telah kita lakukan selama ini. Termasuk mereka-reka rencana secara matang, termasuk apakah sebenarnya kita sudah siap mati, jika Tuhan benar-benar memanggil kita kelak?

Dan jawabnya, sederhana. Tak ada yang kita bisa bawa mati kelak, selain kebaikan-kebaikan yang telah kita buat di muka bumi, baik kepada sesama, maupun kepada sang pencipta.

Segala jabatan, pekerjaan, kekayaan, harta benda, seperti rumah, mobil, motor, blackberry, laptop, kamera, uang, tabungan, deposito, keluarga, sahabat, pacar dan istri (hehehe kalau punya) ternyata akan berakhir ketika nafas kita diambil kembali oleh sang khalik.

Mereka akan tinggal di dunia, dan kita sendiri, harus berada di alam lain, berhadap-hadapan dengan Sang Maha Yang Harus Kita Takuti.

Lalu, ketika beberapa waktu terakhir, ini, berbagai cobaan hidup itu datang di tahun 2008, dan saya harus kehilangan beberapa kenikmatan hidup, saya akhirnya mahfum, ini tidak perlu disesali ataupun diratapi. Sudah terlalu amat banyak keindahan yang telah diberikan tuhan kepada saya.

Saya jadi malu pada diri sendiri. Telah banyak hal yang telah saya nikmati, dan saya masih harus mengejar banyak hal yang belum tentu mempunyai nilai kebaikan bagi banyak orang,selain untuk diri sendiri.Ah terlalu naif hidup ini, kalau hanya untuk keserakahan diri sendiri.

Lalu saya kemudian teringat, atas peristiwa-peristiwa tahun lalu. Tentang bagaimana memperjuangkan kepentingan banyak orang, meski pada akhirnya, harus berakhir dengan kondisi seperti saat ini. Tersangka, mungkin akan dibui, dijauhi banyak orang, dicaci dicap sok dan dianggap terlalu kiri. Belum lagi tekanan-tekanan, rayuan, suap, dan teror.

Tapi malam ini, saya bersyukur. Toh Tuhan masih bersamaku. Buktinya, ia mulai memberiku kesehatan dan memelihara semangatku. Ia juga masih mengirimkan sejumlah sahabat-sahabat yang masih bertahan di Koalisi Jurnalis, dan sekolah jurnalis yang kelak melahirkan penerus yang baik. Dan yang paling penting Tuhan telah memberiku keberanian untuk tetap melawan sampai titik darah penghabisan.

Karenanya meski, pada akhirnya saya sendirian, dengan segala keterbatasan materi, dan teman sejati, saya jadi tahu diri. Toh pada akhirnya memang kita harus sendiri. Bukankah kita lahir dan mati dengan sendiri. Lalu, buat apa kita harus melankolis ketika orang-orang berpaling dan berkhianat?

Hidup ini ternyata amat pendek, umur kita paling banter 80 tahun, itupun kalau sampai. Dan alangkah bodohnya kita, jika kita tidak menjadikan hidup kita ini bermakna bagi manusia dan peradaban.

Dan atas segala kekurangan dan kesalahan serta kehilafan di tahun lalu, tahun ini, tak ada yang lebih pantas kita lakukan selain mengabdikan hidup kita untuk kebajikan dan membela serta membahagiakan orang-orang tanpa kecuali. BRAVO JURNALIS!!!


Makassar, 10 Januari 2009
buat para pejuang yang selalu kesepian dalam kesendiriannya
di pusat keramian makassar
pukul 21:50 WITA

Tidak ada komentar: