Senin, 01 Desember 2008

SETIA HINGGA AKHIR

TELAH kugariskan takdirku pada matahari. Lalu kutancapkan kesetiaanku tanpa batas padamu. Hari ini, adalah hari dimana saatnya kita menatap matahari.Bravo Pers Bebas. Lawan Kriminalisasi Pers!!!


HIDUP itu hanya sekali. Karenanya biarkan ia memberi arti bagi kehidupan. Perjalanan ini memang terkadang berat, bahkan nyaris overload. Tapi, itulah pilihan.
Dan kali ini, telah kukabarkan padamu tentang kesetiaan itu.

Sepulang dari Kongres AJI Indonesia, di Sanur Denpasar 26-30 November, kemarin, langkah ini terasa ringan. Menatap sayap-sayap burung camar di atas bukit Uluwatu Di Denpasar, hati ini terasa lebih ringan.

Burung camar itu, terbang bebas. Dan aku membayangkan betapa indahnya jika para jurnalis itu bebas. Mereka bisa terbang kemana saja, dan mengabarkan apa saja yang mereka inginkan tentang kebaikan, tentang peradaban dan juga tentang kemanusiaan.

Melihat dari sudut jauh di Uluwatu, aku merasa pilihan ini sudah tepat. Dan kali ini aku kembali belajar bertahan.

****

Perjuangan koalisi jurnalis tolak kriminalisasi pers, telah memasuki masa-masa yang sejujurnya semakin sulit.Sejak gerakan ini dimulai bulan Maret silam, terlalu banyak hal yang harus dipertaruhkan.

Dimulai dari hilangnya pekerjaan, teman dekat, teror, hingga perginya kawan-kawan sejawat, membuat pikiran ini terasa amat berat.Belum lagi, status tersangka, tawaran materi, bahkan bujuk rayu, yang terkadang memacu adrenalin.

Namun, tuhan memang adil, disaat banyak bagian yang pergi. Di saat itu banyak pula yang datang. Mereka-mereka inilah yang memberikan spirit tak terhingga.

Dan ketika, kaki ini kembali menjejakkan kaki di tanah makassar, aku hanya bisa berujar. Tuhan beri aku kekuatan untuk melawan tirani itu. Beri kami jiwa untuk memperjuangkan kebebasan para jurnalis, agar mereka bisa bekerja untuk masyarakatnya dengan tenang.

Memandang jauh dari balik bukit Uluwatu, aku hanya bisa menitip pesan buat siapa saja yang telah pergi jauh. Disini aku telah membuat pilihan, setia hingga akhir pada perjuangan ini. Tak ada kata menyerah, dan biarkanlah kami hidup seperti lilin kehidupan. Menerangi bumi dengan damai. Bravo kebebasan Pers!!!


1 Desember 2008
dipojok nusantara yang terabaikan
hari dimana kita memulai menatap langsung matahari

Tidak ada komentar: