Selasa, 28 Oktober 2008

MEUTYA HAFID

HIDUP itu memilih, demikian, kata orang bijak. Namun migrasi besar-besaran para jurnalis di Indonesia yang berputar haluan menjadi politisi, tanpaknya perlu dipelototi secara serius. Ada apa gerangan yang membuat jurnalis berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif. Apakah daya tarik kursi legislatif lebih digdaya ketimbang ketajaman pena.

KABAR MENGEJUTKAN itu sebenarnya, menyentak, ketika Meutya Hafid,presenter Metrotv yang selama ini menjadi ikon Televisi Berita di Indonesia ini, sebagaimana dimuat di Majalah Tempo, Edisi Oktober, mengaku akan pindah profesi sebagai Calon Anggota legislatif dari Partai Golkar Wilayah Sumatera Utara.

Mengejutkan, karena Meutya, sebenarnya, bukan saja menjadi simbol Metrotv, tapi juga, menjadi sosok yang sebenarnya menjadi sumber inspirasi, bagi para jurnalis, bahkan para calon-calon jurnalis dari kampus.

Meutya, bahkan oleh sejumlah aktifis pers kampus, telah dijadikan sebagai kiblat idealisme mereka. Sama seperti Goenawan Moehammad, Eros Djarot dan Adinegoro. Saking ngefans pada sosok mungil ini, buku 168 Jam Dalam Sandera yang diberikan Meutya, kepada saya, saat diskusi bukunya di Makassar, telah dibaca oleh 53 mahasiswa saya, dan hingga saat ini, masih berada di tangan mereka karena antrian membacanya.

Meutya boleh dikata, sosok idola baru di dunia jurnalisme di era sekarang. Ia mewakili generasi jurnalisme saat ini, yang lagi krisis tokoh yang setia pada profesinya.

Dimana-mana, saya selalu membangga-banggakannya. Bahkan sedikit nyeleneh, saya, selalu menyebutnya sebagai srikandi jurnalis yang tangguh dan harapan kita di masa datang.

Namun,ketika kabar itu datang, dan saat membaca Tempo, tangan saya bergetar.Saya lalu teringat pada pertemuan beberapa bulan silam. Bahkan, saking hormatnya saya, pada dia, saya bela-belain membantu panitia diskusi bukunya.

Lalu hati kecil saya bertanya, apa yang membuat seorang Meutya harus meninggalkan profesi yang telah membesarkannya, bahkan telah memberi banyak inspirasi bagi banyak calon jurnalis?

Sebegitu besarkah pamor legislatif itu?Entahlah.Tapi mewakili sekian banyak penggemarnya, kepindahan Meutya tentu akan menjadi pukulan berat bagi siapa saja.Terutama yang merindukan sosok integritas dan independensinya.

******

Migrasi Meutya Hafid dari jurnalis ke legislatif, sebenarnya memang sudah santer terdengar saat penjaringan bakal calon legislatif bergulir. Selain Meutya Hafid, sesungguhnya banyak sudah jurnalis yang loncat dari kursi redaksi ke kursi dpr.

Selain Meutya, saat ini puluhan bahkan ratusan wartawan dipastikan rame-rame menjadi caleg. Baik itu di tingkat DPR-RI, DPRD I hingga DPRD II. Selain Meutya, terdapat nama-nama beken di jagat jurnalis di tingkat nasional, diantaranya,Laurens Tato dari Media Indonesia Partai Golkar no.4, dapil NTT, Teguh Juwarno eks RCTI PAN DPR RI Jateng IX No urut 1. Sementara di tingkat lokal, Sulawesi Selatan, terdapat nama Waspada Santing, PAN untuk DPRD Sulsel, Pimred BKM (Fajar Group).

Lalu, apa yang menjadi daya dorong para jurnalis itu, pindah haluan?Tentu jawabannya sangat personal, dan pasti dilatari oleh sikap yang jelas dan penuh pertimbangan.

Namun, satu hal yang mereka lupa, kepindahan mereka telah melukai hati dan semangat sebagian orang yang telah menitipkan harapan kepada mereka, untuk tetap bisa menjadi jurnalis yang hanya setia mengabdi kepada publik.

Sama seperti para mahasiswa yang telah menjadikan mereka simbol, kita semua tentu akan kehilangan sosok dan jiwa mereka. Dan hari ini, kita hanya bisa mengirimkan karangan bunga tanda duka cita kepada Meutya Hafid dkk.

Makassar, 28 Oktober 2008
di pojok langit makassar yang gelap
pukul 20.20 wita

Tidak ada komentar: