Selasa, 28 Oktober 2008

ENDORSEMENT

Barrack Obama calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. tidak hanya menjadi magnet bagi para pesohor ternama di Negeri Paman Sam. Obama, kini bahkan mendapatkan dukungan dari media massa.Lebih dari 194 surat kabar di seluruh Amerika menyatakan dukungannya, sementara John Mc Cain hanya megantongi 84 dukungan.


Dilansir dari situs Detik.Com, yang mengutip jurnal Editor and Publisher, sampai hari Senin (10/27/2008), Obama telah mengantongi dukungan 194 surat kabar di seluruh Amerika, sementara John Mccain hanya mengantongi 84.

Namun pengaruh dukungan surat kabar kepada calon presiden atau yang sering disebut endorsement terhadap pemilu Presiden masih menjadi perdebatan. Sejarah membuktikan, calon presiden yang mendapat banyak dukungan surat kabar tidak otomatis memenangkan pemilu.

Contoh yang paling jelas adalah Pemilu Presiden tahun 2004. Waktu itu capres Partai Demokrat, Senator John Kerry mengantongi dukungan surat kabar lebih banyak daripada capres Partai Republik, Presiden George W. Bush, tapi John Kerry kalah.

Obama tercatat mendapat dukungan dua harian ternama, yakni the Washington Post dan the New York Times.

Dukungan surat kabar terhadap calon presiden atau politisi sudah menjadi tradisi dalam perpolitikan Amerika Serikat. Sejumlah orang menyoal bahwa endorsement politik seperti ini bisa merongrong kredibilitas dan kemandirian mereka. Namun, mereka berpendapat, dukungan ini merupakan posisi editorial yang harus dipisahkan dari aspek penulisan berita yang tetap bertumpu pada kaidah-kaidah jurnalistik.

****

BAGAIMANA di Indonesia? Endorsement politik media massa, tampaknya masih menjadi tanda tanya. Namun jika melihat gelagat yang ada di media konvensional, dukungan terbuka, sepertinya akan sulit didapatkan publik.

Filosofi, bahwa media tidak boleh berpihak, memang masih menjadi patron yang hingga kini masih dipegang kuat news room atau kebijakan redaksi media di Indonesia. Walaupun pada dasarnya, banyak media, yang secara sembunyi-sembunyi mempunyai sikap, pandangan, atau bahkan afiliasi terhadap calon presidennya sendiri.

Media massa di tanah air, masih sangat malu-malu, atau boleh dikata, amat tabu menyatakan sikap politiknya terhadap kandidat calon presidennya.Mungkin ini baik, secara normatif, namun sebenarnya "munafik" dalam arti yang sesungguhnya.

"Kemunafikan redaksi" media massa di Tanah air inilah, yang kemudian mendorong, banyaknya para pemilik media atau bahkan para jurnalis, yang sehari-harinya mengaku jurnalis tulen, tapi sesungguhnya ia juga menjadi corong bagi kepentingan partai politik, atau kandidat calon pemimpin negara, hingga kepala daerah, sekelas bupati dan walikota.

Budaya munafik ini pulalah yang membuat, sebagian media mainstream, di Indonesia, enggan bersikap seperti media di Amerika Serikat. Oleh sebab itu, dalam sebuah diskusi media massa dan etika di kampus, sejumlah mahasiswa menyatakan masih lebih menghargai media di Amerika Serikat yang terbuka bicara pemihakan meski secara etika sebenarnya melanggar prinsip-prinsip dasar jurnalisme, ketimbang media massa di tanah Indonesia, yang kerap berlindung dibalik jargon independensi,namun sebenarnya sering menjadi partisan.

Lalu, saya mengatakan kepada para mahasiswa itu, kalau sesungguhnya tidak ada satu alasan pembenar pun, yang harus membuat kita memaklumi sebuah pelanggaran prinsip-prinsip dasar universalisme jurnalisme. Apapun alasannya, media yang tidak bersikap netral entah di Amerika Serikat atau di Indonesia, atau dimana saja berada, tetaplah menyalahi azas kepatutan.

Pertanyaannya, sekarang adalah bagaimana anda sebagai calon jurnalis,belajar bersikap, seburuk apapun itu resikonya.


Makassar, 28 Oktober 2008
Hari Sumpah Pemuda
di Sudut Pengayoman
pukul 19.26 wita

Tidak ada komentar: