Jumat, 17 Oktober 2008

BARACK OBAMA

...SEJARAH seharusnya hanya menuliskan tentang perjuangan, ketabahan, dan juga kesetiaan. Ini agar generasi yang akan datang, hanya bisa belajar tentang hal-hal positif.Tapi nyatanya, sejarah juga menuliskan pengkhianatan, ketidaksabaran, dan juga kemunafikan.Akhirnya banyak generasi yang juga belajar tentang hal-hal negatif.

HARI INI, dikutip dari situs Harian Kompas, salah satu koran tertua di dunia,yang selama ini menjadi kiblat para jurnalis di berbagai negara, membuat sebuah kejutan besar dengan laporan tentang "Washington Post" yang mendukung Obama.

Dalam berita yang dilangsir dari Washington, Jumat, Kompas memberitakan, kalau Calon presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama, mendapatkan dukungan surat kabar terkemuka di AS, The Washington Post. Dalam tajuknya, Jumat (17/10), Senator Illinois itu dianggap berpotensi untuk menjadi seorang presiden besar.

Post menuliskan, dukungan tersebut juga disebabkan capres Partai Republik, John McCain, tampil mengecewakan dalam kampanyenya. Apalagi, setelah McCain memilih Gubernur Alaska, Sarah Palin, sebagai wakil presidennya dalam pemilu, 4 November.

"Hal itu sebagian besar mempermudah (dukungan) karena kekaguman kami terhadap Obama dan kualitas yang dia tunjukkan selama kampanye ini berlangsung," kata Post dalam editorialnya edisi Jumat yang juga diterbitkan di situsnya, Kamis malam.

Post yang juga mendukung Demokrat di dalam dua kali pemilihan presiden sebelumnya memuji Obama sebagai seorang yang luwes dan cerdas. "Dia memiliki nuansa pemahaman masalah-masalah kompleks dan kepiawaiannya dalam tindakan mendamaikan dan pembentukan konsensus-konsensus," ujarnya.

Surat kabar tersebut mengatakan, Obama juga punya pemahaman yang canggih terhadap dunia dan tempat Amerika di dalamnya dan bahwa dia memegang komitmen untuk mempertahankan kepemimpinan AS.

Post menuliskan, McCain akan banyak dikerumuni para pembuat kebijakan yang saat ini di bawah kendali Presiden George W Bush. Kebijakan Bush dituding sebagai penyebab krisis keuangan saat ini. "Kami percaya bahwa mereka telah mendapatkan kekayaan dan mungkin bahkan keuntungan dari beberapa tahun dalam belantara politik ini," katanya.

******

LANSIRAN ini tentu mengagetkan, bahkan boleh dikata diluarkewajaran. Sebab pada umumnya, dalam kamus jurnalistik, tidak boleh adanya pemihakan. sehebat apapun dan sebaik apapun Obama, seharusnya media massa seperti Washington Post atau yang kerap dikenal dengan sebutan The Post, bisa menempatkan dirinya sebagai media yang netral, dan tidak berpihak kepada siapapun.

Ini menjadi sebuah ironi, bagaimana sebuah media yang terkenal dengan tradisi jurnalistiknya, melacurkan dirinya, hanya untuk sebuah dukungan. Post memang bukan kali ini mendukung calon partai demokrat. Namun dukungan yang dipublikasikan ini, tentu menjadi catatan penting, bahwa raksasa media pun ternyata tidak bisa bersikap independen.

Sebegitu besarkah pesona Barrack Obama?, sehingga menyilaukan mata The Post? tentu ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja. Paling tidak ini adalah pelajaran buruk bagi generasi yang akan datang,terutama di kalangan jurnalis pada khususnya.

Toh bagaimanapun juga media dan jurnalis, seharusnya memposisikan diri,tidak memihak kepada siapapun juga.Sebab manakalah media dan jurnalis, sudah menempatkan dirinya pada satu pihak, ia sebenarnya telah mengingkari semangat jurnalisme itu sendiri.


Makassar, 17 Oktober 2008
di sudut jalan nusantara makassar
pukul 17.31 wita

Tidak ada komentar: