Kamis, 18 September 2008

SAYA MAAFKAN

Sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bisa berbuat untuk sesamanya...

HIDUP itu sungguh singkat. Usia seseorang mungkin tidak akan bisa 100 tahun lagi. Ya paling tidak, maksimal 70 tahun. Lewat itu, kata orang-orang tua, manusia kembali menjadi anak-anak. Maklum akan memasuki fase pikun. Artinya, saat itu kalau tuhan masih mengizinkan, para orang tua akan kembali menjadi anak-anak.

Hari ini, di kampus, salah seorang mahasiswa saya bertanya." Kenapaki selalu mengurusi orang, sementara orang-orang saja pada tidak mau peduli,meski itu untuk kebaikan mereka sendiri?," protesnya, ketika membaca koran yang memuat berita perlawanan Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers Makassar, hari ini.

Saya tersenyum, saya menatap matanya yang bernada protes. Pertanyaan ini kerap saya terima, sejak beberapa tahun terakhir. Entah dari keluarga,pacar, sahabat, senior dan kolega-kolegaku. Lalu, saya jawab. Kita harus bermanfaat bagi manusia dan peradaban, pukasku.

Saya kemudian memberinya analogi, sekarang usiaku 34 tahun. Ya, itu berarti Tuhan telah memberiku anugerah yang begitu banyak selama 34 tahun itu. Selama hidup di dunia, tentu, kita harus punya tujuan hidup. Yang kelak bisa kita bawa di hari kemudian.

Nah, salah satunya, adalah bermanfaat bagi banyak orang. di usia yang sudah separuh perjalanan hidup ini, saya ingin mendarmakan jiwa dan ragaku untuk sesama. Nah kebetulan, saat ini saya, saya berada di komunitas jurnalis. Nah disinilah saya mencoba mengabdi, dengan segala keterbatasanku tentunya.

Dalam keterpakuannya, saya kemudian melanjutkan bicaraku:
Karena dorongan ini berbuat baik, dengan niat yang tulus inilah, saya berusaha memberikan apa yang saya bisa. Jadilah, saya terkadang memang lupa diri sendiri. Bahkan, kerap oleh para kolega dianggap sebagai tindakan ekstrem atau bunuh diri.

Karenanya, di tengah hingar bingar perlawanan koalisi, saya selalu haqqul yakin, kalau semuanya pasti ada jalan keluarnya. Dan paling tidak, gerakan ini memberikan roh bagi semua jurnalis, betapa pentingnya kebebasan pers diperjuangkan.

Oleh sebab itu, ketika ada teror, kehilangan pekerjaan, kehilangan hati, ancaman pembunuhan, dikucilkan, dicaci maki, ditinggalkan, dikhianati, diperiksa polisi selama berjam-jam, bahkan diancam dipenjarakan ataupun ditembak matipun, saya tetap tak bergeming.

"Ini adalah persoalan setia pada profesi. Perlawanan ini berbanding lurus dengan upaya-upaya berbuat baik meski itu hanya seperti ini yang saya bisa. Jadi tidak seorang pun yang bisa menghentikan sampai kebebasan pers benar-benar dimiliki para jurnalis," kataku.

Karenanya, meski ada tawaran-tawaran yang menggiurkan, saya selalu yakin, tawaran itu tidak akan mengalahkan nilai-nilai perjuangan. Biarlah hidup ini sengsara, biarlah rasa ini nelangsa, biarlah hidup berjalan di atas kaki sendiri.

Jadi, alasannya sederhana saja, saya ingin mengisi hari-hari ini dengan niat dan langkah yang baik, untuk sesuatu yang saya yakini baik. Apakah usaha saya akan diapresiasi oleh teman-teman jurnalis, itu bukan wilayah saya lagi. "Niatku bersih, tanpa pamrih,"kataku

Karena tanpa pamrih, saya selalu berpikir positif bagi siapa saja. Termasuk kepada setiap orang yang tidak sejalan, atau tidak suka dengan perlawanan koalisi. Karenanya, saya selalu membuka pintu maaf bagi mereka yang telah diperjuangkan teman-teman, namun akhirnya berpaling.
atau berkhianat."Toh revolusi memang kadang memakan anaknya sendiri," lanjutku.

Tapi, hidup kita akhirnya sendiri? sergah mahasiswaku lagi.
Saya kemudian menatapnya lagi, lalu saya membalas tanyanya."Selalu saja,ada keajaiban-keajaiban diperjalanan ini. Saya juga percaya, kebaikan yang kita buat meski itu hanya sekecil debu pasti akan ada manfaatnya,"kataku.

Ya penting, adalah bagaimana mengisi hidup kita supaya bisa bermakna. Entah itu kepada keluarga, komunitas, masyarakat,dan siapaun dia. "Kamu masih muda, jadi isilah hidupmu dengan sebaik-baiknya bagi orang lain. Janganlah egois. Sebab hidup ini tidaklah kekal. Paling banter 100 tahun, itu kalau Tuhan mengizinkan," kataku.

Dalam kebingungannya, saya kemudian membisiknya. Mau tahu keajaiaban-keajaiban lain lagi?

Iya, katanya.

Keajaiban itu, adalah saya selalu memaafkan mereka,yang telah berpaling. Yang mengambil keuntungan dari penderitaan, yang mengingkari semangat kebebasan itu sendiri.Saya telah memaafkannya.


Makassar 18 September 2008
atau 18 Ramadhan 1429 H
selepas jumat di Mappanyukki
di pojok jalan ujungpandang

Tidak ada komentar: