Selasa, 16 September 2008

IKHLAS

Setiap kata, setiap nafas, dan setiap gerak, adalah untukmu. Saya merasa terhormat berada di sini.Seikhlas matahari yang menerangi bumi.

1996 SILAM, di sebuah bencana alam di kabupaten SINJAI, saat itu saya masih tercatat sebagai jurnalis SCTV. Ada enam jurnalis dari Makassar, yang berangkat melakukan peliputan tanah longsor di kaki gunung, yang saya sudah lupa namanya.

berangkat Subuh di Makassar, kami berenam, akhirnya tiba petang menjelang malam.Dari kejauhan, lokasi longsor sudah terlihat, tapi itu harus melalui dua gunung lagi. kami tertegun.

kami saling bertatapan, selaku jurnalis paling yunior, saya hanya bisa tertegun. Maklum malam sudah pekat,sementara di tengah hutan jaringan telpon tidak ada. saya pun hanya memegang erat-erat kamera JVC.

Setelah melalui diskusi singkat, akhirnya diputuskan, perjalanan dilanjutkan. Kami berenam saling merapat. "Kita tak boleh berpisah. Kita berangkat sama-sama.Pulang sama-sama,".

Lalu kami berjalan pelan, menyusuri semak belukar, menyeberangi sungai, dan menapaki jalanan setapak.

entah kenapa, setelah menempuh perjalanan tanpa henti. saya akhirnya tiba di puncak gunung, tempat tim posko SAR. Tapi ada yang aneh saat itu, tak seorang pun teman saya yang berada di sekeliling saya.

"Mungkin karena gelap, sehingga kami akhirnya terpisah," gumamku.

saya akhirnya istirahat, di sebuah posko milik TNI. satu jam berlalu, tak ada kabar dari teman-teman itu. Saya sudah mulai gelisah, kemana mereka.

tapi beberapa saat kemudian, satu rombongan tim SAR, tiba di posko utama. Ia membawa kabar, ada wartawan di bawah bukit yang sekarat. Saya tersentak. Tanpa banyak kata, saya menyambar senter milik anggota Tim SAR, dan langsung berlari turun ke bawah bukit, mencari teman-teman itu.

hampir dua jam lamanya, saya berkelahi dengan semak belukar, di tengah hujan yang membasahi pakaian. Kamera saya pegang erat-erat. Dibantu, warga, yang berpapasan di jalan, kami terus mencari para wartawan itu.

pakaian saya sobek, sepatu saya pun robek, goresan ranting di tangan dan wajah membuat saya kesakitan. " Tapi saya harus bertemu mereka. Kita tidak boleh berhenti. Harus dapat.Mereka bukan sekadar teman kerja, tapi juga sahabatku," kataku pada seorang warga yang sudah mulai kehilangan kesabaran.

Lalu, setelah berjalan selama empat jam tanpa henti. akhirnya saya tiba di sebuah rumah, yang terletak di lereng bukit. Saya kemudian bertanya, kepada sang pemilik rumah.

"Oh iya de, teman-temanmu sudah tidur semua di atas, tadi memang ada yang pingsan,naik aja," kata pemilik rumah.

Saya langsung berlari ke atas rumah panggung, dan melihat mereka tertidur pulas. Satu persatu saya periksa mereka. Lalu saya kemudian terduduk, memandangi mereka satu persatu.

Salah seorang di antaranya,yang menyadari kedatanganku kemudian menyapaku. "Makanmi dulu. Besok kita lanjutkan perjalanan,lalu tidur," sang teman pun kemudian melanjutkan tidurnya.

Syukurlah. Mereka selamat semua. Usai makan, saya menyambangi mereka satu persatu.Sejak saat itu, entah kenapa, saya selalu merasa iklhas menyayangi mereka,tanpa pamrih.Apakah karena mereka jurnalis, ataukah karena mereka sahabat-sahabatku, entahlah.

saat itu, juga entah kenapa, saya berjanji akan melindungi mereka sampai kapanpun, meski pada akhirnya, mereka tidak pernah sadar, kalau saya benar-benar menyayanginya.

Dan hari ini, ketika, perjuangan koalisi tolak kriminalisasi pers, untuk memperjuangkan kebebasan pers,bagi semua jurnalis, ---termasuk salah seorang sahabatku itu, karena keempat teman itu, sekarang sudah tidak jadi jurnalis lagi---yang kemudian berujung pada kasus hukum di Polda, saya hanya teringat pada peristiwa 12 tahun silam itu.

Tapi, saya ikhlas menerimanya. Saya selalu merasa terhormat, memberikan waktuku, tenagaku, dan jiwaku pada profesi ini, meski pada akhirnya, satu persatu, ada yang enggan, ada yang berpaling, ada yang mencibir, ada yang curiga, atau bahkan berkhianat.

Tapi sudahlah. Saya telah mengikhlaskannya. Toh hanya Tuhan yang tahu. Lagipula keikhlasan tidak diukur pada hasil, tapi pada niat.Saya benar-benar ikhlas karenanya.Termasuk ikhlas menerima resikonya. Hidup Pers Bebas!!!


makassar, 16 september 2008
pukul 21.41 wita
sehari menjelang ke polda
bravo pers bebas, bravo jurnalis



Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh. Karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan menyekanya.

Tidak ada komentar: