Minggu, 31 Agustus 2008

PADA SUATU MASA 1429 H

NIKMAT apalagi yang hendak kau dustakan...(Alquran)

AYAT-AYAT ALLAH ini, selalu saja menggetarkan hatiku di saat Ramadhan tiba. Seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya, kali ini, di 1429 H, saya selalu tertampar dengan kalimat-kalimat suci ini.

Dan anehnya, saya selalu merasa malu karenanya. Maklum, saya termasuk orang yang selalu kurang mensyukuri nikmat Allah. Padahal, kalau dihitung-hitung, terlalu banyak nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

Karenanya, meski Ramadhan ini, saya tidak lagi bekerja sebagai wartawan, pasca resign dari Metrotv 21 Juni lalu, saya pun akhirnya mensyukurinya. "Tuhan pasti selalu punya rencana-rencana yang baik buat umatnya," gumamku.

Mungkin juga, saya tertolong dengan pikiran positifku sendiri. Alhamdulillah, di tengah tuntutan dan banyaknya tanggungjawab yang membebani, menganggur itu, juga bisa menjadi ajang untuk melihat sekeliling kita sendiri.Tentang bagaimana sikap para sahabat kita, sikap teman seperjuangan kita, sikap keluarga kita, sikap orang-orang terdekat kita, atau sikap orang-orang yang kita ayomi atau bahkan kita perjuangkan mati-matian.

Semula, saya merasa aneh dengan kondisi itu. Apalagi ketika saya melihat satu persatu sahabat-sahabat itu pergi, atau teman seperjuangan, akhirnya menyelamatkan diri sendiri, atau bahkan ada yang berkhianat. Ada juga yang hanya bisa menatap tanpa makna, dan melupakan ikrarnya sendiri.

Tapi di tengah rasa "aneh" itu, saya akan bertemu Ramadhan. Dan alunan ayat-ayat suci itu,kembali menempeleng muka bebalku. Cukup, tak ada yang perlu disesali.Inilah realitas hidup.

Toh tidak ada yang abadi di dunia ini. Justru mari kita menjadikan diri kita abadi di hati semua manusia, dengan berbuat sesuatu untuk kemanusianan dan peradaban. Manusia yang baik, adalah mereka yang berbuat sesuatu hal kebajikan tanpa mengharapkan adanya balasan. Ibarat lilin yang rela hancur menerangi kegelapan.

Dan Ramadhan kali ini, ayat-ayat suci itu, kembali memberiku kekuatan maha penting. "Tidak ada nikmat yang bisa kita dustakan.Mengapa di tengah karunia yang begitu besar,kita tidak bisa berbagi, baik itu suka ataupun duka," yakinku.

Bahwa, setiap usaha, setiap perjuangan, setiap komitmen, setiap integritas, pasti selalu punya makna.Bahwa sebaik-baik manusia, adalah manusia yang punya makna bagi sesamanya. Manusia yang selalu teguh pada komitmennya untuk selalu memberi arti bagi masyarakatnya, komunitasnya, dan keluarganya.

Di Ramadhan kali ini, saya masih ingin tetap menjadi bagian dari sebaik-baik manusia itu. Di tengah banyaknya kritikan dan kondisi hidup untuk belajar berkompromi.Tapi Tuhan masih memberiku kekuatan. Tekad memberi sedikit makna di galaksi kasih sayang-NYA. Kalaupun ada yang mungkin sedikit berbeda di Ramadhan ini, adalah saya hanya ingin "berbagi lebih" dengan orang-orang yang selama ini mungkin sedikit terabaikan oleh idealisme itu sendiri.

Makassar 31 Agustus 2008
pukul 22.30 wita
di sudut haji bau lagi

( tulisan ini saya persembahkan bagi siapa saja yang selalu kesepian dalam kebajikan, dan selalu berusaha memberi makna bagi peradaban.Selamat menuanikan ibadah puasa 1429 H. mohon maaf lahir dan bathin)

Tidak ada komentar: