Sabtu, 09 Agustus 2008

KESEMPATAN KEDUA

Mereka bukan jahat, hanya 180 derajat dari kebaikan.Mereka hanya butuh perubahan arah.Itulah yang kita butuhkan kadang-kadang.Jika Tuhan bisa memberikan kesempatan kedua,lalu mengapa kita tidak bisa?

AKHIRNYA vonis itu tiba juga. Ibarat Palu raksasa yang menghujam jantungku. 05-08-2008 sekitar pukul 20:42:13 sebuah sms itu masuk ke ponselku.Bunyinya:"..aku udah mencoba semaksimal mungkin yang aku bisa,tapi keputusan *=*/@352*** dipecat.Aku sedih sekali..".

Senyap,baru kali ini aku tak menjawab sms itu. Sampai sekarang, malah aku biarkan sms itu tersimpan rapi dalam inboxku.

"Hujan kepagian, dan matahari malu-malu bertemu gerimis," gumamku.Pagi itu pada keesokan harinya, hujan membasahi rumahku. Tak tahu entah kenapa. Apakah ini sebuah pertanda? entahlah. Sudah lama saya tidak ingin menebak tanda alam.

Aku lalu merogoh masa lalu, para sahabat,adik dan juga mahasiswaku itu di balik jubah masa laluku. Satu persatu, kususuri kedalaman pengalamanku bersamanya. Lalu lamat-lamat, aku mendengarkan keluh kesah mereka. Aku sedih pada relung hati yang teramat dalam. Terlebih lagi, diriku tidak bisa memberikan apa-apa kepada mereka, selain hanya dorongan semangat untuk tetap bisa bertahan, bersabar, dan mencoba menatap mahatari lagi.

Aku tertegun, hidup itu memang penuh misteri. Kesalahan mereka, menjadi sebuah petaka, dimana tidak ada kesempatan kedua bagi mereka. Fakta ini, seakan menjadi paradoks bahwa selama kita hidup selalu ada kesempatan kedua.

Tapi semuanya sudah terjadi. Ada baiknya, semua pihak belajar menerima kenyataan.Tidak pada upaya mencari kambing hitam. Kalaupun ada yang patut disalahkan, adalah waktu itu sendiri.Mungkin Tuhan punya skenario lain dibalik semua ini.

Karena semuanya sudah terjadi. Malam ini,aku hendak menuliskan pesan kepada mereka, agar mereka bisa belajar hidup, dan tidak lagi bermain-main pada masa depannya sendiri.

Tapi seperti pesan singkat yang sempat kukirimkan kepada beberapa orang diantara mereka. Hidup ini sesungguhnya masih panjang, masih banyak cara memaknai hidup. Bagiku, yang penting bagaimana kita semua bisa memaknai hidup, dan mencoba memberi warna kehidupan dan peradaban itu sendiri.

Datang dan pergi, hanyalah sebuah episode dari sebuah skenario panjang perjalanan hidup manusia. Sangat tidak pantas kita meratapi fakta.Saatnya kita bangkit lagi dan lagi.

(buat para sahabat yang bersama di haji bau doeloe. semoga diberi ketabahan dan kesabaran serta semangat.)

makassar, 9 agustus 2008
di arteri pengayoman
pukul 19.20 wita

Tidak ada komentar: