Kamis, 12 Juni 2008

KEBEBASAN

Setiap perjuangan kemenangan dan kegagalan adalah hal yang lumrah. Yang penting, adalah bagaimana kita memberi makna perjuangan itu.

Perjuangan kali ini, namanya Kebebasan Pers. Dalam bangku kuliah, saat masih diajar oleh Prof Muis, Guru Besar Ilmu Komunikasi bidang Hukum dan Etika, Prof Muis selalu mewanti-wanti para mahasiswanya. Tidak ada yang paling hakiki dari peradaban umat manusia, selain kebebasan pers.

Pers dituntut untuk selalu menyuarakan kebenaran meski pahit,untuk diterima.Prof Muis bilang, jika ada yang mencoba merampas kebebasan pers, ia seharusnya, dilawan Karena sesungguhnya jika tidak dilawan, makan para wartawan itu sesungguhnya telah mati.

Dan hari-hari terakhir ini, saya selalu teringat kata-kata prof Muis itu. Saya masih ingat ketika kami harus mendengarkan kuliah Prof Muis, dari tape recorder yang direkam oleh asitennya,dan dibawa ke ruang kuliah di FIS Unhas 1994 silam.

Karenanya ketika, banyak desakan, untuk menghentikan gerakan melawan upaya Kriminaliasasi Pers yang dilakukan Irjen Polisi Sisno Adiwinoto,yang saat ini menjadi Kapolda Sulsel, saya hanya bisa bicara, tak seorang pun yang berhak mengubur kebebasan pers itu sendiri.

Kebebasan Pers itu adalah nyawa publik, tak seorang pun yang berhak merampas nyawa publik selain sang Pencipta. Kecuali, jika ada pihak yang kini merasa sebagai sang Pencipta. Pemilik Tunggal kebenaran itu sendiri.

Makassar, 12 Juni 2008
Disudut Karebosi

Tidak ada komentar: