Jumat, 13 Juni 2008

KEAJAIBAN

Ini tahun ke-15 saya mengabdi di profesi ini. Dan selama rentang waktu itu, terlalu banyak hal yang telah diberikan profesi ini kepada diri saya. Kali ini saatnya saya memberikan konstribusi.

AKHIRNYA saya harus bilang kepada orang tua saya, mengapa saya harus berada di garis yang satu ini. Memperjuangkan semangat kebebasan pers. Kedengarannya mungkin sangat utopi. Tapi saya selalu berharap, upaya melawan Kriminalisasi Pers, yang dilakukan Kapolda, pada hakekatnya tidak akan pernah berakhir.

Karenanya,ketika rencana keberangkatan ke Jakarta ini diputuskan, untuk bertemu Dewan Pers, dan lembaga nasional lainnya, tak sedikitpun nada keraguan dibenakku. “Tidak ada kata gagal dalam perjuangan. Sebab, gerakan ini, adalah sebuah gerakan moral. Kita ingin para jurnalis di kota ini, memahami, bahwa kebebasan pers tetap harus kita perjuangkan.Kita selalu ingin menghadirkan roh itu.”kataku pada setiap orang yang mendebatku, termasuk orang tua saya yang khuatirnya minta ampun.

Taruhannya memang lumayan, selain mengorbankan waktu, tenaga dan biaya juga tekanan psikologis. Orang tua saya berharap-harap cemas, tempatku berbagi kini telah berpaling, belum lagi telepon, sms dan tekanan-tekanan dari berbagai pihak,kadang menyita waktu untuk memberi penjelasan.Mana lagi, teman-teman yang selalu berpandangan aneh tentang semua ini.

Tapi sekali lagi saatnya memberikan konstribusi. Hidup ini toh terlalu singkat untuk kita maknai. Saya hanya salah satu manusia,yang menyakini, bahwa setiap orang punya kesempatan untuk berbuat baik bagi peradaban dan kemanusiaan, sekecil apapun itu.Walaupun kita harus berhadapan dengan resiko.Tuhan selalu memberikan peluang untuk berbuat baik.

Saya berdoa, semangat tentang betapa pentingnya kebebasan pers itu, suatu saat akan terpatri di dada semua orang, termasuk Kapolda Irjen Polisi Sisno Adiwinoto, dan teman-teman jurnalis itu sendiri.

Kalaupun pada akhirnya semua menjadi skeptis. Itu perkara lain. Motivasinya pasti untuk sebuah kebaikan. Paling tidak kita telah menunjukkan kepada siapa saja, bahwa tidak seorang pun yang boleh merampas kebebasan jurnalis, yang pada akhirnya merampas kebebasan publik.

Apakah perjuangan ini akan berhasil? Saya percaya perjuangan ini telah berhasil, jauh-jauh hari sebelum semuanya menjadi jauh. Kini semua orang sadar betapa pentingnya kebebasan pers bagi para jurnalis itu sendiri. Kesadaran itu, entah sekarang, lamat-lamat akan menjadi nyata.

Dan rentang waktu tiga minggu yang melelahkan itu, kini menjadi sebuah semangat baru,tentang arti pentingnya sebuah kesadaran. Dan kali ini saya baru melihat untuk kali pertama,organisasi profesi, media nasional dan media lokal di Makassar bersatu atas nama kebebasan pers. Dan tak ada kata yang bisa mewakili keajaiban ini

Makassar, 13 juni 2008
Sepulang dari liputan di KPU

(tulisan ini saya persembahkan buat orang-orang yang selama ini begitu peduli)

Tidak ada komentar: