Senin, 19 Mei 2008

PENJARA atawa KEMATIAN

Saya tersenyum pagi ini, karena mungkin banyak orang yang berpikir, para jurnalis itu bisa dibungkam dengan penjara atau bahkan kematian.Apalagi hanya dengan sebuah ancaman

PENJARA atau kematian, sesungguhnya bukanlah hal yang patut ditakuti. Di sejumlah negara di dunia,termasuk di Indonesia, banyak wartawan yang harus berurusan dengan polisi, jaksa,hakim, bahkan kematian hanya karena menyampaikan berita yang bebas dan kriitis.

Win Tim dari Myanmar yang tahun 1989 dihukum 20 tahun penjara atas tuduhan menyebarkan propaganda menentang pemerintah. Sedangkan warga Cina, Hu Jia yang mengeluarkan pendapatnya dalam forum "blog" divonis tiga setengah tahun penjara karena mengkritik Olympiade dan dan tentang pelanggaran hak asasi di Cina.

Di Cina banyak tema tidak diinginkan serta tidak boleh diberitakan secara bebas dan kritis. 31 wartawan dipenjara di Cina. Dan ini merupakan angka tertinggi di dunia. jumlah wartawan yang dipenjara meningkat, dari 14 wartawan tahun 2001 menjadi lebih dari 30 pada tahun 2008.

di Eritria, Afrika, bahkan lebih buruk lagi. Sejak tahun 2003 media independen sama sekali dilarang. 16 wartawan berada dibelakang tirai besi.“Sekitar 130 wartawan saat ini dipenjara di lebih dari 30 negara, di antaranya mendapat hukuman beberapa tahun, kata Elke Schafter Ketua Wartawan Lintas Batas Jerman. Dikutif dari DW-World.De.

Itu yang dipenjara. yang gugur dalam tugasnya lain lagi ceritanya.Laporan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) yang dilangsir Januari 2008 lalu, Sepanjang tahun 2007 tercatat 171 wartawan tewas. Dari 171 wartawan tewas itu, sebanyak 134 orang tewas akibat pembunuhan dan kekerasan yang berujung kematian, dan 37 orang tewas akibat kecelakaan saat pergi atau pulang meliput berita.

IFJ melaporkan, Irak merupakan tempat paling berbahaya bagi wartawan. Sebanyak 65 wartawan tewas selama tahun 2007 di negara itu. Disusul Somalia (8) dan Pakistan (7). Enam wartawan tewas di Meksiko saat meliput penjualan obat-obatan terlarang.

"Kekerasan terhadap wartawan tetap tinggi selama tiga tahun terakhir. Dan tempat paling berisiko bagi pekerja media adalah mereka yang melaksanakan tugas di negara mereka sendiri," kata Presiden IFJ Jim Boumelha.

Di Indonesia, selain Muh Guntur yang meninggal saat liputan KM Levina tahun lalu,kasus Ersa Siregar yang tewas dalam konflik bersenjata antara TNI dan GAM yang paling fenomenal. Selain itu kita banyak disuguhi kasus-kasus pengancaman dan kekerasan terhadap para jurnalis. Entah dilakukan aparat keamanan, tni atau polisi, pejabat,birokrat,ormas, satpol, hingga massa, dan masyarakat umum.

5 Mei lalu misalnya,Chanrry Andrew Supriati, wartawan Trans TV di Jayapura dipanggil Polresta Jayapura sebagai saksi terkait penayangan berita pengibaran Bintang Kejora di kantor Kelurahan Yabansay Distrik Harem pada 1 Mei 2008. Bahkan, dua wartawan masuk penjara karena berita dan penulisan opini yang ditulis yakni wartawan Radar Jogya dan Wartawan Tabloid Oposisi di Medan masing-masing divonis 6 bulan penjara dan 1 tahun penjara.

Dan yang lebih fatal lagi, ancaman terhadap pers bukan hanya ditujukan bagi jurnalis, ancaman terhadap penulis opini dan surat pembaca juga terjadi. Sebut saja kasus Bersihar Lubis yang di tuntut oleh Kejaksaan Agung hanya karena menulis opini.

Di Makassar, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Sisno Adiwinoto mengancam akan mempidanakan media dan wartawan yang memperolok-olok citra para pejabat di Sulawesi Selatan. Sisno seperti dikutip Tribun Timur (20/5) juga meminta para pejabat yang merasa dirugikan agar melaporkan keberatan tersebut kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti. Sisno dalam hal ini, telah berupaya melakukan kriminalisasi terhadap Undang-Undang Pokok Pers. Sebuah gerakan, pembungkaman kebebasan dan daya kritis pers.

Dan,sepulang liputan 100 tahun kebangkitan nasional, saya memutar ulang ingatan saya tentang perjuangan para kaum pembebas di berbagai belahan di dunia.Mengenang para jurnalis-jurnalis yang telah berkalang tanah, para jurnalis yang saat ini masih mendekam dalam terali besi,karena upayanya menyuarakan kebenaran.

Para jurnalis yang ada di Cina, Irak, Bangladesh, Afganistan, Iran, Korea Utara, Thailand, Miyammar, dan Indonesia telah memberikan sebuah inspirasi besar, atas sebuah tonggak perlawanan abadi.

Pagi ini saya tersenyum, karena mungkin banyak orang yang berpikir, para jurnalis itu bisa dibungkam dengan ancaman, penjara atau bahkan kematian.

Makassar 20 Mei 2008
Seusai Meliput Hari Kebangkitan Nasional
Pukul 10.30 wita

Tidak ada komentar: