Senin, 10 September 2007

SEMALAM DI TENTENA

TENTENA, SULAWESI TENGAH... Dalam konteks kerusuhan Poso, hingga pasca Deklarasi Malino, Tentena diangap sebagai basis atau benteng terakhir kalangan Nasrani yang sulit ditembus. Sebagian besar jurnalis bisa sampai kesana karena ikut rombongan pejabat, atau paling tidak diundang atau datang secara berkelompok. Itupun setelah terlebih dahulu melalui jalur utara, yakni dari Palu-Poso-Tentena. Sangat jarang yang mau mengambil resiko arah Selatan Yakni Mangkutana-Pendolo-Tentena. Pekan lalu, tepatnya 12-18 Juni 2002 The Jakarta Post, mencoba menembus Tentena dari arah Selatan. Yakni dari Makassar-Palopo-Luwu Utara-Mangkutana-Pendolo-Tentena-Poso dan berakhir di Palu. Tujuan perjalanan ini satu. Memantau kondisi objektif Hasil Deklarasi Malino pasca enam bulan berjalan. Berikut laporannya:
TERNYATA tidak mudah untuk sampai ke Tentena. Berangkat dari Makassar, Rabu Malam (12/6) dan tiba di Palopo---Ibukota Kabupaten Luwu sekitar 500 km arah utara Makassar---kamis pagi (13/6), para sopir angkot yang ditemui semuanya enggan masuk Tentena. “Berbahaya Pak. Apalagi saya ini beragama Islam,” kata Rudi salah seorang supir di Terminal Palopo. Subhan salah seorang wartawan lokal Palopo Pos, malah menganjurkan kepada penulis untuk berbalik arah ke Makassar via Palu saja. “Tentena sekarang rawan lho. Ini bukan untuk menakutnakuti. Tapi aku hanya realistis saja. Apalagi anda sendirian,” kata Subhan.
Tapi penulis tetap tak bergeming. Burhanuddin, salah satu staf Palopo Pos akhirnya berbaik hati mengantar ke terminal Palopo. “Anda sebaiknya pergi dulu ke Mangkutana (daerah paling utara Sulsel Perbatasan antara Sulteng red). Disana siapa tahu ada mobil angkutan dari Toraja yang menuju Manado,” kata Burhanuddin.
Burhanuddin benar, dengan naik mobil antar kecamatan, sekitar pukul 12.00 penulis tiba di Mangkutana, kembali naik angkutan umum ke Desa Wonorejo, daerah ujung Mangkutana yang berbatasan langsung dengan Pendolo, Kecamatan Pamona Selatan. Kabupaten Poso. Sama di Palopo, tak seorang sopir pun yang mau mengantar masuk langsug ke Tentena. “Sekarang sudah jam satu siang Pak, nanti kemalaman di jalan. Semua mobil tidak ada berani masuk Tentena, kalau di Pendolo boleh, “kata Baso (42) warga desa Wonorejo.
Baso yang juga pengusaha angkutan di Wonorejo, menyarankan agar sebaiknya penulis ke Tentena pagi hari saja. Sebab selain pertimbangan waktu, langit Wonorejo tiba-tiba gelap dan kemudian turun hujan rintik-rintik. “Saya ini pernah hidup di Poso dan Tentena. Alam biasanya memberi tanda-tanda buruk. Dulu ketika rusuh di Poso dan Tentena langit Wonorrejo sudah memberi tanda,” kata Baso.
Penulis akhirnya bermalam di perbatasan Wonorejo. Keesokan harinya Jumat (14/6) penulis akhirya mendapatkan sebuah tumpangan. Vernando Sebuah bus Jurusan Makassar-Manado bersedia mengangkut, dengan catatan tidak mengantar masuk ke kota Tentena. Itupun harus duduk di atas kardus, mengingat kursi bus tiga perempat itu sudah sesak dengan penumpang. “Tak apalah yang penting sampai,” kataku.
Melewati jalan yang meliuk-liuk di sepanjang jalan trans Sulawesi sungguh merupakan perjalanan yang melelahkan. Ungtungnya, pemandangan alam yang hijau dengan udara yang bersih segar membuat kepenatan dan keletihan sejenak bisa terlupakan. Lepas, dari Desa Wonorejo, setelah menempuh sekitar tiga jam perjalanan, tiba di perbatasan Mangkutana.
Keluar dari Mangkutana, suasananya berubah lain. Di samping kiri kanan, terlihat dengan jelas rumah-rumah penduduk yang tinggal puing-puing sisa kerusuhan lalu. Pos-pos aparat keamanan terdapat di beberapa lokasi. Di Pendolo, tepatnya di Desa Mayoa, Bus berhenti. “Siapkan KTPnya semua. Di depan ada pemeriksaan,” kata sang kondektur Bus Vernando.
Semua penumpang turun, sekitar 12 personil Brimob kemudian menggeladah perut Bus Vernando. “Jalan ini pintu masuk Tentena. Jadi semuanya harus diperiksa,” penumpang yang di bom, jadi selain KTP aparat juga memeriksa bawaan penumpang. Reey menjelaskan, dalam kejadian itu empat orang tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka. “Bapak hati-hati saja kalo masuk Tentena, “kata Reey.
Bus kemudian bergerak pelan menuju Pendolo. Rumah-rumah penduduk yang habis dibakar masih tampak angker. Sebagian ada yang sudah dijalari tumbuhan liar, karena belum juga didatangi pemiliknya. “Warga di sini belum ada yang berani pulang,” kata seorang penduduk di Desa Pandayora Pamona Selatan. Bergerak kearah timur suasana tambah mencekam. Maklum pemandangan alam tidak secantik di Mangkutana. Tapi begitu memasuki Desa Tiu dan Didiri di Kecamatan Pamona Timur ada suasana kehidupan disana. Beberapa rumah yang dibakar tampak dibangunan kembali oleh warga. “Warga disini sudah berdatangan karena sudah aman, Pak,” kata seorang warga Desa Tiu.
Dua jam berikutnya, jarum jam menunjukkan pukul 15.30 Wita, stelah menempuh jarak sekitar 220 Km, mobil memasuki wilayah Tentena. Penulis turun dengan langka hati-hati. Maklum di depan gerbang Tentena, sekelompok pemuda tangggung duduk-duduk mengawasi orang yang lalu lalang. Penulis kemudian berpapasan dengan Cristovel seorang pengojek. “Mau kemana. Dan anda siapa,” kata Cristovel (25).
Dengan tanggap Penulis langsung menyebut nama Pendeta Damanik dan Pak Santos. Dua nama ini katanya sangat dikenal dan disegani di Tentena. Pendeta Damanik adalah Ketua Crisis Center Gereja Kristen Sulawesi Tengah (CC-GKST) sementara Santos adalah tokoh agama yang juga ketua Forum Komunikasi Masyarakat Tana Poso. Dugaan itu, ternyata benar, Cristovel yang semula bersikap dingin dan menaruh curiga akhirnya mulai bersahabat. “Semua pendatang harus ditahu kemana dan untuk apa kesini,” kata Cristovel.
Bersama Cristovel penulis menuju rumah Johannes Santos (62). Menuju Rumah Santos, jalan-jalan masuk ke Tentena tampak lengang. Meski demikian, nadi kehidupan sudah terasa. Terlihat beberapa bangunan dan kios di Pasar Tentena sudah diperbaiki. Padahal tahun 2000 lalu semua bangunan di kitaran danau Poso musnah terbakar. Bukan itu saja sebuah mesjid dekat gereja besar di samping Polsek Tentena tampak mulai dibangun. Tiba dipertigaan jalan, sesaat melintasi jembatang sungai Poso, sekelompok anak muda berteriak-teriak kepada Cristovel. “Laskar Jihad ya. Laskar Jihad Ya,” teriaknya. Cristovel hanya menggeleng memberi isyarat.
Selang beberapa menit kemudian tibalah di Rumah ketua Delegasi Nasrani pada Perundingan Malino untuk Poso yang terletak di bibir Sungai Poso. Santos sendiri tampak ramah menyambut. Dengan panjang lebar ia banyak bercerita. “Tentena itu tidak seangker yang diduga orang,” katanya.
Ia kemudian bercerita, betapa Tentena saat ini sering ditulis sebagai tempat yang sangat tidak ramah bagi para pendatang. “Tolonglah Anda tulis itu. Kami berterima kasih Anda mau dating langsung ke sini,” katanya.
Usai bertemu dengan Santos, penulis menuju Hotel Pamona Indah. Hotel ini sendiri berada di pinggir Danau Poso. Suasananya segar. Airnya tampak kebiru-biruan. Air danau Poso sendiri bergerak ke utara dan bermuara di teluk Tomini. Melihat air danau poso, terlintas gambaran cerita orang-orang luar tentena yang menyebutkan disanalah orang-orang banyak dibunuh kemudian dihanyutkan melalui Sungai Poso. Bergidik hati rasanha.
Dari hotel, bersama Cristovel setelah diberi tips ekstra, penulis menuju Rumah Camat Pamona Utara Daniel Tobondo. Dia banyak memberi gambaran soal situasi terakhir Tentena. Ia juga mengakui kalau kecamatan yang dihuni sekitar 25 ribu jiwa dengan luas 400 km2 di tambah 14-15 ribu pengungsi masih sangat labil. Apalagi dalam beberapa minggu terakhir ada kejadian di Poso. “Ya memang Tentena beberapa pekan terakhir sedikit bergejolak,” katanya. Karena ia mengintatkan kepada penulis untuk berhati-hati saja. Kapolsek Tentena Iptu Palulun Sesia juga mengakui kalau belakangan Tentena memang bergejolak, tapi semuanya masih bisa dikendalikan. “Anda lihat sendiri. Tidak begitu kacaukan,” tanyanya.
Tentena sebenarnya adalah sebuah tempat yang indah. Kota yang terdiri atas enam kelurahan Yakni Kelurahan Tentena, Sangele, Pamona, Petirodongi, Tendeadongi dan Sawidago, adalah kota wisata. Udaranya sejuk, dan kalau malam hari sangat dingin. Sebelum kerusuhan Poso meletus, setiap minggunya sekitar 500 wisatawan mengunjungi Tentena. Baik wisatawan mancanegara dan dalam negeri. Daerah penghasil cengkeh dan rotan ini juga dikenal sebagai pusat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). GKST berdiri 13 Oktober 1947 dan menjadi tonggak sejarah masa peralihan tanggung jawab pusat pekabaran Injil. GKST ini juga mempunyai hubungan Oikumenis gereja di sebelah barat dan utara. Kini, setelah kerusuhan Poso, turis yang berdatangan ke Tentena hanya bisa dihitung dengan jari. “Jumlah wisatawan asing dan local menurun drastis, pasca kerusuhan, “kata Daniel Tobondo.
Menurut Daniel, penyebab anjloknya wisatawan ke Tentena, karena gambaran umum tentang Tentena yang menyestkan. “Tentena itu dilukiskan dengan sangat seram, sehingga tidak ada berani yang datang ke sini,” katanya.
Padahal kata dia, sejak beberapa pecan terakhir, sudah banyak pedagang yang sudah ke Tentena, entah dari kalangan suku Bugis, Jawa dan Makassar.
Tapi benarkah Tentena aman? Terutama bagi para pendatang? Khususnya bagi orang non-muslim. Terasa sulit menjelaskan. Hanya saja, meski sudah berkali-kali diberi jaminan tentang Tentana, namun saat tengah malam, penulis tetap tak bisa tidur nyenyak. Maklum saat memantau situasi Tentena semalam, penulis dua kali ditanyai oleh penduduk, soal agama. Tapi penulis hanya diam saja. Tampaknya bukan hanya dikalangan masyarakat bawah. Fendy pandey Humas Crisis Center sendiri sempat bertanya kepada penulis, tentang agama yang penulis anut. “Kalau anda muslim, saya patut acungi jempol,” selidiknya. Selain pertanyaan ekstrim, labilnya kondisi Tentena, akibat kondisi di Poso juga menjadi alas an utama munculnya rasa was-was. Apalagi, beberapa pemuda tampak begitu alergi dengan pada pendatang-pendatang baru.
Sikap antipasti ini juga berlaku bagi para wartawan. Khususnya wartawan local. Dimana mereka, wartawan sangat sering membuat berita-berita sensasional dan memutar balikkan fakta. Karenanya, beberapa warga Tentena mengaku amat marah pada wartawan.” Tidak semua wartawan bersikap demikian. Aku kesini semata-mata melakukan cover both sides. Anda harus percaya bahwa The Jakarta Post selalu mengutamakan keberimbangan. Percayalah, kami kesini dengan niat baik, yaitu menggambarkan fakta apa adanya, tidak ada tendensi, semata-mata untuk melihat apakah Deklama berjalan baik atau tidak,” kata penulis setiap bertemu orang yang alergi sama wartawan.
Meski demikia, sulit rasanya memang untuk memejamkan mata, apalagi rasa penat dalam perjalanan selama dua hari sebelumnya belum juga hilang. Barulah pada keesokan harinya, saat matahari menyapa, barulah terlihat betapa indah pemandangan di sekitar danau Poso. Air Danau yang mengalir di kuala Poso berkilau-kilau. Deretan gunung-gunung kecil yang hijau tampak semakin memepesona.
“Selamat juga akhirnya, dan niat untuk bermalam di Tentena terwujud juga,” gummku. Karenanya, usai mandi, penulis kemudian bergegas berkeliling Tentena semuanya serba susah. Tapi mau apalagi,” katanya. Di kamp ini, penulis menemui banyak keluarga pengungsi. Mereka pada umumnya sudah ingin pergi dari Tentena. “Tapi bagaimanamau pergi, situasi belum aman. Biar susah, yang penting kita orang amanlah disini,” kata Daniel Topang.
Dari kamp pengungsi, penulis kemudian bergegas menemui Pendeta Leonard Mboresa dari GKST. Menurut dia, Tentena sekarang ini memang sudah sangat lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya disbanding sebelum Deklama. “Hanya saja sejak adanya persitiwa di Poso yang menimbulkan korban dari pihak kita, situasinya disini agak labillah,” katanya. Menurut dia, meski warga Tentena, masih bisa menahan diri atas berbagai peristiwa pembunuhan dan peledakan bom, namun ia mengkhuatirkan batas kesabaran mereka bisa habis.” Makanya saya menghimbau agar pemerintah bisa mengambil tindakan tegas,” katanya.
Dan menjelang siang naik sepenggalah, setelah berpamitan dengan Kapolsek Tentena Palulun Sesia dan Cristovel penulis pun bergegas menuju Poso, ibukota Kabupaten Poso, lega Rasanya meninggalkan Tentena.--(UPI)

(reportase ini dibuat Juni 2002 lalu, ketika saya masih bekerja di harian the jakarta post, dan pernah disarikan dalam sebuah pelatihan jurnalisme konflik)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan yang Bagus. Selamat bung Upi. Anda sudah membuktikan bahwa di Tentena tidak ada dendam. Yang ada hanyalah dampak konsekwensi logis akibat dari perbuatan jahat di sekitar Tentena. Wajar kalau ada kekawatiran dari penduduk kota itu terhadap siapapun yang datang. Reaksi spontan yang mereka tunjukan dari gambaran tulisan Bung Upi ini membuktikan bukan mereka penyebab kerusuhan itu. Sebagai bukti : mereka bereaksi normal-normal saja. Tidak menyerang Anda Semoga dalang dari kerusuhan bisa terungkap (entah kapan). Saya sebagai warga Poso hanya bisa berharap, semoga penduduk Tentena dan Poso tetap menjaga ketentraman daerah ini. Kapan-kapan kembali lagi ke Tentena Bung. Masih banyak obyek wisata yang belum tersentuh "pena" wartawan sekelas Anda Bung. Ada batu terapung, tunggul kayu hitam mengapung, goa pamona, kerbau batu La Saeo, dll. Selamat bertugas...... Salam kenal. Tolino M.