Rabu, 07 Mei 2008

MENULIS TAKDIR

Hidup ini singkat, dan alangkah indahnya jika kita bisa memberikan sesuatu bagi orang banyak.Bukankah kita bisa menulis takdir kita sendiri untuk peradaban dan kemanusiaan?

TIDAK mudah menolak sebuah tawaran yang menggiurkan. Dalam tiga bulan terakhir, setidaknya ada dua tawaran pekerjaan,yang sesungguhnya sulit ditolak hanya dengan menggunakan akal sehat. Kenapa, sebab dari segi jabatan, penghasilan, dan tentu saja ketenangan, tawaran-tawaran itu amatlah sangat menjanjikan.

Tapi hari ini, saya membuat keputusan yang sulit diterima akal sehat. Saya menolak tawaran itu. Alasannya sederhana, saat ini saya tidak sedang ingin memikirkan diriku sendiri. Saya ingin berbuat baik kepada orang banyak yang sesungguhnya membutuhkanku.

Terasa klise, tapi hati saya benar-benar plong. Dan sore tadi, saya menatap orang-orang banyak itu satu persatu disudut jauh.Hati saya bergumam, Tuhan jika ini jalanmu, jadikanlah mereka-mereka sebagai manusia yang berguna bagi profesinya kelak, bagi peradaban dan kemanusiaan.

Saya sendiri tidak tahu, apakah ini takdir atau saya sedang menulis takdir itu sendiri.

Makassar 7 mei 2008
Kantor Bisnis Indonesia
Biro Makassar
Selepas senja

1 komentar:

ekorusdianto mengatakan...

Salam K'. Saya Eko, pernah ikut mata kuliahata di STIKOM Fajar.

Saya punya pandangan sendiri. Takdir adalah ujung sebuah usaha.

Sebagai mantan mahasiswa'ta, saya ingin berdiskusi. Teman-teman berkata jika disetiap wilayah Indonesia ada mafia berita. Tak terlepas Makassar tentunya. Contohnya, banyak wartawan yang memperkerjakan 'stringer' peluncur informasi. Ujung tombak berita. Ujung tombak kematian...,

Setelah si 'stringer' mendapat berita ia menyerahkan ke wartawan yang lebih "senior". Wartawan "senior" itu pun menambahkan namanya dalam paket berita. padahal saya banyak tahu mereka hanya duduk diwarung kopi, sambil cerita porno-pornoan. Setelah berita itu tayang 'stringer' diupah seperti pekerja ladang.

Apakah kakak setuju sistem seperti itu?
Saya gelisah dan tanpa sembunyi mengatakan di Makassar tempat saya kuliah dan mulai mengenal kerja jurnalis, banyak mafia berita. Biasanya nongkrong di Daeng Anas, Poenam, dan Kopi Zone?
Apakah mereka bisa dikatakan "senior" lagi?

Salam