Kamis, 10 April 2008

MENEROBOS KABUT BATURUBE


TIDAK MUDAH menerobos kabut Morowali. Khususnya Baturube Lokasi Banjir Bandang terparah, di Baturube Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Pilot Helikopter TNI Angkatan Udara, dari Skuadron Udara 8, Kapten Penerbang Abram yang berpangkalan di Lanud Hasanuddin Makassar, harus menunda keberangkatan hingga 24jam untuk bisa masuk ke Baturube, ibukota Kecamatan Bungku Utara, yang menjadi lokasi yang terisolir,sejak dihantam banjir bandang 21 Juli 2007. (liputan banjir bandang di Morowali 26 juli hingga 5 agustus 2007)



Pagi, sekitar pukul 08.00 Wita, Tepatnya 26 Juli 2007 kru heli langsung meluncur ke bandara Mutiara Palu. Abram bersama kopilot Lettu Pen Lubis menginpeksi krunya, yang terdiri Serma Kusyadi, Serma Budhi D, Serma Agus S dan Sertu Tri Juni agar bersegera naik,sebelum kabut menghadang.Misinya masuk ke Baturube.

Cuaca di langit kota Palu lumayan cerah saat itu. Helikopter Puma,yang tidak dilengkapi radar ini, naik. Saya satu-satunya wartawan yang ikut dalam misi ini, yang naik dari Pangkalan Hasanuddin, bersama sejumlah tim SAR dan Basarnas bergerak.

Hampir 45 menit,kami melayang-layang diudara. Abram harus berputar-putar selama tiga kali,sebelum heli kami turun. Rombongan SAR dan Basarnas turun. Ini adalah rombongan pertama yang berhasil masuk ke Baturube, pasca banjir bandang yang meluluhlantakkan Kecamatan Bungku Utara. bram langsung balik ke Palu, dengan misi mengangkut bantuan. Hari itu, tiga kali kami bolak-balik Palu-Baturube-Kolonodale.Sekaligus membuka reute baru,yang memang banyak belum diterbangi sebelumnya.

Hari berikut, misinya jauh lebih berat. Tim evak diminta untuk mengangkut korban luka ke Kolondale. Saat itu cuaca kurang bersahabat.Bahkan cukup ekstrem. Tapi Abram ngotot. “Disana ada korban luka.Kalau kita menunggu cuaca baik.mungkin mereka tidak bisa diselamatkan,” kata Abram,menjawab pertanyaan krunya soal cuaca.

Sebagai wartawan yang sering terbang bersama Puma, dalm berbagai misi, saya menikmati kenekatan awak Heli. Lalu kami berangkat dari Kolonodale. Tapi cuaca benar-benar ekstrem. Jarak pandang sama sekali nihil. Tapi Abram tetap ngotot. Ia tetap nekat ke Baturube,dengan menggunakan sungai sebagai petunjuk jalan.

Maka meliuk-liuklah kami di atas sungai.Terbang rendah yang dilakukan cukup fantastis.Berkali-kali heli nyaris bersentuhan dengan pucuk pohon. Belum lagi angin dan curah hujan yang cukup deras.membuat air hujan masuk seenaknya ke badan heli.

Saya lalu menatap satu persatu kru kabin. Terlihat tangan Abram dan Lubis tergoncang-goncang menahan stabilitas Heli,yang oleng seperti ombak. Heli tetap jalan menyusuri sungai.Saya sempat khuatir,akan cuaca itu. Tapi ketegangan akhirnya sirna,ketika dari jauh saya melihat baturube.

Heli pun turun dengan susah payah. Kami lalu mengevak korban. Tapi cuaca masih buruk.bahkan tambah buruk.Aku pikir Abram akan melakukan stop engine. Eh malah dia bilang naik. “Bahan bakar kita terbatas, dan sudah mulai sore. Kita harus ngejar waktu di Kolonodale,lalu ke Soroako,isi bahan bakar,” katanya. Maka naiklah Heli ini dengan susah payah.Menerobos kabut dan berkelahi dengan jarak pandang yang lumayan nihil.

Cerita ini, adalah salah satu dari banyak kejadian,yang saya alami bersama Kru Heli Puma,yang melakukan misi kemanusiaan di Morowali. Saya bergabung dengan Heli Puma saat di Makassar,ketika Danops Lanud Hasanuddin Letkol Tamsil,yang sekarang Kolonel Tamsil, Danwing Lanud Hasanuddin, memberiku tempat ikut Tim Heli Puma ke Palu.

Secara personal,saya memang sudah akrab dengan Tim Heli Puma, sebelum Kapten Pnb Abram,saya juga sudah kenal dengan Kapten Pnn Eko,yang juga ikut dalam misi kemanusiaan pada Banjir dan Longsor Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan,beberapa waktu sebelumnya.

Abram dan krunya,termasuk kru yang nekat. Beberapa kali,kami harus berhadapan dengan cuaca buruk,keterbatasan bahan bakar,dan waktu. Pernah kami terpaksa bermalam di Soroako,lantaran suplai avtur yang semestinya disiapkan di Soroako, terlambat datang karena persoalan yang susah untuk dipahami.Abram malah selalu mewanti-wanti pada banyak kasus,agar tidak melaporkan beberapa hal, agar komandan nya tidak tahu.

Atau misalnya,ketika kami harus bermalam di kabupaten Luwuk Banggai,karena cuaca buruk yang menghadang. Abram dengan santainya, menurunkan heli sejenak,untuk mencari posisi Luwuk Banggai,akibat rusaknya navigasi Heli.Bahkan,kami pernah harus terbang selama berjam-jam mengitari gunung hingga ke Prvovinsi Gorontalo,hanya untuk meloncati gunung,yang berselimut kabut.

Tapi di antara sekian pengalaman yang luar biasa dan dramatis,adalah saat kami menemukan sebuah desa yang tenggelam,yang sama sekali belum mendapat bantuan. Alhamdulillah berkat temuan Heli, penduduk yang terisolir berhasil diberikan bantuan melalui darat,keesokan harinya.

Misi Heli Puma Skuadron Udara 8 dalam operasi Morowali, patut diberikan apresiasi. Di tengah keterbatasan, tim yang dipimpin Abram, mampu memberikan yang maksimal buat membantu korban Morowali. Mulai dari misi pencarian, pengiriman tenaga SAR, obat-obatan, kantong mayat, evakuasi korban hingga mengangkut para pejabat local dan nasional yang meninjau lokasi banjir.

Dan selama kebersamaan dengan tim ini, saya merasakan, di tengah keperkasaan mereka di angkasa.mereka-mereka tetaplah manusia biasa,yang juga memiliki kerinduan kepada keluarga mereka. Tentang istri Abram yang lagi hamil tua, dan Lubis yang sebagai pengantin baru. Ato kru yang tiba-tiba sakit, kelaparan, hingga kelelahan.

Tapi kalau pun ada yang berbeda.Meski mereka jauh dari keluarga, mereka kelaparan,mereka kelelahan,mereka marah, mereka tetap tampil sebagai prajurit profesional dan tangguh. Saya baru tersadar,kalau mereka-mereka ini, sama dengan para jurnalis. Tugas adalah yang utama. Bravo!

Tulisan ini, merupakn versi asli tulisan yang akan dimuat di “The Elephant Camp” edisi Ketiga Skuadron Udara 8 TNI AURI

Tidak ada komentar: