Kamis, 13 Maret 2008

MAAFKANLAH KAMI


Coba dipikirkan secara jernih,menurutmu pers mengangkat kasus Aco, ibu n kakaknya yang meninggal itu, ada muatan politisnya? Untuk menjegal Ilham yang mau maju lagi di Pilkada?Mungkinkah ini rekayasa politik Ilham?


SMS ini aku terima, 10 maret 2008. Sebenarnya saya tidak terkejut dengan SMS ini.Maklum sebelumnya, sudah banyak selentingan miring yang beredar tentang berita-berita Daeng Basse. Mulai, dari kasus pelintiran, gerilya politik, hingga berita pesanan kandidat calon walikota tertentu.Saya membalas SMS ini.”Tidak juga. Kasus ini bagi saya murni liputan.Tidak lebih tidak kurang.Ini juga bagian dari fungsi kontrol saja,”

BERITA terselamatkannya Aco dari kematian akibat kelaparan, setelah ditemukan sekarat disamping ibunya Daeng Basse yang hamil tua,beserta kakaknya Bahri, akibat kelaparan 29 februari lalu, nyaris luput dari perhatian kita semua.

Luput? Bagaimana bisa luput?. Mungkin karena kita selama ini, terlalu lama hidup bermewah-mewah. Makan dan minum di Warkop, yang harga satu gelas kopi susu mencapai dua liter beras.Bahkan, kita selama ini, terlalu lama nongkrong di Mall, Kafe, Pub, Diskotik, Bioskop, dan Restoran cepat saji yang harganya untuk satu porsi setara dengan 7 kali makan makanan biasa.

Selama ini,kita terlalu lama santai duduk di ruangan berpendingin. Berbicara tentang mobil,rumah, motor, dan tentu saja pilkada yang sangat memeras tenaga,pikiran dan energi.Kebiasan-kebiasaan ini justru telah mengikis kepekaan yang pada akhirnya menghilangkan sense of crisis. Mungkin para pekerja pers sudah terlalu lama tertidur,atau ikut-ikutan dengan pola dan tingkah laku pejabat kita yang gemar dalam hedonisme.

Coba tilik perilaku para pejabat kita. Mereka bukannya, prihatin Mereka malah ramai-ramai cuci tangan. Bahkan tak sedikit yang kebakaran jenggot.Mereka malah berusaha mengaburkan fakta,dan mencari kambing hitam.

Para pegawai dan perawat di rumah sakit dipaksa mengakui kalau Daeng Basse dan Bahri meninggal karena diare akut. Aco pun tiba-tiba dikatakan hanya mengalami kekurangan cairan,padahal sehari setelah dirawat, kepala perawat di rumah sakit haji memastikan Aco positif Gizi Buruk. Wong, beratnya hanya sembilan kilo, padahal usianya sudah empat tahun.

Tak terkecuali,Lina, tetangga Daeng Basse,yang semula garang bicara tentang kelaparan, tiba-tiba pelit bicara sama wartawan dan menuding Daeng Basrilah yang menjadi penyebab kematian sang istri karena pemabuk dan suka judi.Lucunya lagi suami Lina, Udin, telah menunjuk staf kelurahan Parantambung sebagai jurubicaranya.

Para pejabat di lingkup kota Makassar,malah ramai-ramai menyalahkan wartawan.Meskipun mereka sudah diberikan hak jawab.Mulai dari Kepala Dinas Kesehatan,Kepala Dinas Sosial, hingga Walikota Makassar.

Dan entah,karena sadar atau tidak wartawan malah justru saling menyalahkan. Mereka-mereka ini kemudian, saling punya versi masing-masing.Aneh, bagaimana mungkin berita kemudian mengalami erosi news peg.

Kemarin,saya bertemu dengan salah seorang pejabat. Saya bilang, seharusnya pemerintah harus bersyukur atas kasus ini. Paling tidak ini menunjukkan, betapa kita selama ini, terlalu lama melupakan saudara-saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan.Saat ini, ribuan orang miskin di kota Makassar, yang tidak punya uang untuk beli minyak goreng yang harganya 13 ribu perkilonya. Mereka tidak mampu membeli minyak tanah yang harganya 4 ribu per liternya. Daeng Basse, paling tidak menjadi tamparan bagi semua orang,bahwa sesungguhnya ada satu keluarga hanya bisa makan satu liter beras untuk tiga hari.

Bagaimanapun juga, kali ini,kita harus menebus kelalaian kita selama ini,menebus, matinya kepekaan kita kepada kaum miskin,yang seharusnya kita rasakan deritanya. Terlalu banyak orang miskin di sekitar kita.Terlalu banyak orang yang kelaparan di sekeliling kita. Dan terlalu banyak Daeng Basse lain yang hidup di keramaian kota ini.Kali ini, maafkanlah kami.

Makassar Kamis dinihari
13 maret 2008
02.00 wita





.

Tidak ada komentar: