Minggu, 02 Maret 2008

KAMAL


Seandainya bukan Kamal. Kasus Kelaparan keluarga Daeng Basse (27) yang meninggal bersama janin yang dikandungnya dan anak sulungnya Bahri (5), tidak akan seheboh sekarang. Kenapa?


Begini ceritanya. Jarum jam ditanganku menunjuk pukul 15.15 WITA. Di sebuah warung kopi di bilangan Jalan Pelita Makassar, saya bertemu dengan Kamal. Kamal, adalah jurnalis Trans 7. Saat itu, kantorku memintaku memantau kedatangan Gubernur Sulsel terpilih versi KPU Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. “Syl akan mengadakan jumpa pers di rumah sakit,” kata Kamal.

Tapi beritanya apa? Jumpa pers? Gambarnya sangat tidak seksi,kataku. Ia kemudian menatapku. “Oh iya ya,”katanya. Tapi belum lama kami terdiam,tiba-tiba ia mengabariku katanya, ada tiga orang tewas dalam musibah kelaparan di Bontoduri.

“Wah ini berita luar biasa heboh.Jauh lebih penting dari jumpa pers SYL,”kataku. Kami pun bergegas.Selain kami berdua, ada Boim jurnalis RCTI, yang ikut. Tapi sebelum, terlalu jauh saya meminta Kamal,melakukan konfirmasi. “Tidak usah diragukan.sumbernya dari Memet anak TPI.Memet itu punya link di kepolisian,” katanya meyakinkan.

Kami pun melaju ke Bontoduri. Hampir 30 menit baru kami tiba di Bontoduri tempat rumah Daeng Basse.Sebelumnya kami sempat tersesat,maklum kawasan ini, termasuk kawasan padat penduduk.

Kamal lebih duluan meloncat dari mobil,meninggalkan saya dan Boim. Ia langsung merangsek masuk ke kerumunan massa. Lokasi yang kami tuju, terletak di Jalan Daeng Tata I keluarahan Parantambung,Kecamatan Tamalate Makassar.

Tapi belum sempat saya men-on-kan Dana ( panggilan kamera kesayanganku), Kamal tiba-tiba terlihat berbalik arah sembari menggaruk-garuk kepalanya. “Korbannya baru saja dibawa ke Bantaeng,” sungutnya.

“Waduh terlambat kita. Gimana dong. Kita ini perlu gambar.Bukan rezeki kita,” kataku menenangkan Kamal. Tapi Kamal,tambah gelisah, ia mondar-mandir masuk lorong,dan menanyai semua orang termasuk Pak Camat yang melintas di depan kami.

“sebaiknya kita pulang saja,” kataku. Tapi kamal tetap enggan beranjak. Dia tetap mondar-mandir. “Tetap kita ambil gambar saja dulu. Rumahnya nggak apa-apa,” katanya.Tapi aku mulai menyerah, logikaku tidak nyambung. Mana mungkin kita bisa bercerita seorang ibu hamil tua tewas bersama anaknya karena kelaparan, kalau tidak ada gambarnya. Apalagi pihak RT/RW/Lurah dan Pak Camat, selalu menggoda,kalau kematian keluarga tragis itu,karena diare saja.

Tapi pernyataan pihak rt dan rw, tidak sekonyong-konyong membuat Kamal berhenti. Dia malah, terus bertanya kepada warga. “Pi, warga sini bilang, mereka meninggal karena kelaparan. Jangan percaya sama sumber-sumber dari kelurahan,” katanya berusaha meyakinkan.

Tapi saya masih sangsi. Tiba-tiba Kamal, datang lagi, dan membawa seseorang, katanya, seorang anak korban yang juga kelaparan selamat dan sekarang berada di rumah sakit Haji Makassar.” Pi anaknya yang selamat masih ada di rumah sakit,” katanya meyakinkan.

Saya terpana melihat Kamal. Benar juga Kamal. News Peg kasus ini bisa dimulai dari Sang anak yang selamat. Saya, Kamal, Boim, dan Rian Trans TV, dan Ucok TVOne akhirnya memutuskan mengambil gambar. Kami pun bergegas masuk ke rumahnya.

Rumah kontrakan Daeng Basse,akhirnya kami temukan.setelah sebelumnya,harus melalui kolong rumah,dan sebuah pintu kecil. Rumah berlantai dua ini,pun kami jelajahi,termasuk keterangan narasumber pertama, di lokasi kejadian.

Dari sini,kami semakin yakin,kalau pernyataan staf kelurahan dipelintir. Setelah itu,kami pun bergegas ke rumah sakit. Di rumah sakit, kami akhirnya menemukan Aco bocah empat tahun yang terbaring lemas di ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Haji Makassar. Aco ditemani kakaknya Salma, yang bingung dengan kejadian yang menimpanya.

Usai liputan, saya pun menghampiri Kamal. “Mal, kamu ini berjasa, Lihat saja, dengan liputan TV, semua mata di Indonesia,akan mengetahui kalau ada warga kota Makassar,yang meninggal karena kelaparan. Sekarang tergantung kita bagaimana kita mengemasnya,karena pasti akan ada orang yang tidak suka,” kataku. Kamal pun hanya, tertawa. Ia pun dengan spontan,berujar, biarlah semua orang tahu. Kita ingin lihat sejauh mana kepedulian orang.

Saya,kemudian meninggalkan Kamal, Boim, dan sejumlah wartawan televisi lainnya di rumah sakit,karena memburu Metro Hari ini. Dalam perjalanan, saya merasa bangga pada Kamal. Sebab kalau bukan karena kegigihannya, cerita kematian Daeng Basse dan keluarganya tidak seheboh sekarang.

Kalaupun ada yang mengganjal, dan membuat saya sedih,ketika saya melihat Kamal dan teman-teman bertahan di halaman parkiran rumah sakit itu, menunggui Memet di atas motornya.

Seandainya saja Kamal dan teman-teman menyadarinya? Perjuangan untuk mengabarkan duka seorang keluarga Daeng Basse, akan lebih sempurna.

Makassar, 2 Maret 2008
Pukul 23.20 wita.

2 komentar:

mata air mengatakan...

spakat k'upi...bahaya mentong itu yang namanya COLOK!!! hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha1000x

mata air mengatakan...

bahaya mentong itu yang namanya colok kanda...ha3