Rabu, 06 Februari 2008

LOYALIS

Jurnalis itu seharusnya loyal pada profesinya. Jika ia setia pada profesinya, sesungguhnya ia tidak pernah berkhianat….

MEDIA massa saat ini tak ubahnya sebagai sebuah industri baru. The New Industri. Ciri khasnya sederhana, padat karya dan padat modal. Pergeseran nilai, dari tempat penuh idealisme menjadi perusahaan profit,telah menjadikan media massa, tak ubahnya,seperti perusahaan-perusahaan pada umumnya.

Jadi jangan heran,jika banyak perusahaan media,yang menjadikan tolak ukur keberhasilannya pada hitungan untung rugi.Bukan pada seberapa banyak karya-karya jurnalistik berkualitas yang mereka lahirkan,yang kemudian membawa banyak perubahan bagi masyarakatnya.Fatalnya lagi,media massa,kadang harus mematikan roh idealismenya,hanya karena harus berhadapan dengan untung rugi itu sendiri.

Media massa, bahkan telah menjadikan dirinya,sebagai sebuah industri baru,yang justru menjadi hantu menakutkan bagi kemanusiaan itu sendiri. Seakan melupakan jatidirinya, sebagai sosial kontrol ,perusahaan media,telah mengubur hidup-hidup fungsinya sendiri,sebagaimana yang diajarkan para bapak komunikasi itu sendiri.

Media massa saat ini, atas nama untung dan rugi itu, bahkan telah menyulap para jurnalis-jurnalisnya berpikiran pragmatis, untung dan rugi.Bahkan secara perlahan tapi pasti, para jurnalis-jurnalis yang seharusnya selalu berpihak kepada ketidakadilan,justru secara sadar atau tidak menjadi kapitalis-kapitalis yang luar biasa kapitalisnya.

Virus kapitalis yang merambah kepada jurnalis ini, telah melahirkan faham tentang kelas.Sosialisme struktural yang berpijak pada jejaring strata sosial, malah telah dijadikan sebagai cara pandang dalam menilai seorang jurnalis.Akhirnya terjadi sebuah strata jurnalis. Dan entah sadar atau tidak, telah terjadi kelas-kelas dalam profesi.Padahal, sejarahnya, strata itu bukan pada cara pandang atau cara hidup,tapi lebih pada fungsi manajemen semata.

Struktur kelas dalam teori kapitalis untung rugi,telah diadopsi mentah-mentah para jurnalis. Sehingga lahirlah, istilah pekerja lepas, kontributor, karyawan kontrak, karyawan tetap, organik.Padahal sejatinya, entah di level manajemen apapun,mereka-mereka adalah para pemburu dan pembuat berita.Disini, akulturasi faham kapitalis benar-benar memengaruhi.Entah dari mana awalnya, faham kelas, yang diajarkan dalam teori kelas pekerja,kini sudah masuk ke mind set para jurnalis-jurnalis itu sendiri.

Jadi jangan heran, jika karena faham kelas ini, banyak jurnalis yang mempoisisikan dan mengasosiasikan kehebatan-kehebatan dirinya pada status dan kedudukan manajerial mereka,bukan pada seberapa penting dan pengaruh karya jurnalistik yang ia hasilkan.
Jadilah para jurnalis-jurnalis itu, memburu kedudukan struktural, dan tidak pada fungsionalnya.

Dan para jurnalis-jurnalis berkelas pun akhirnya, memandang setiap jurnalis pada kedudukan struktural mereka—yang sesungguhnya secara personal tidak perlu di persoalkan---. Mereka-mereka kemudian memposisikan dirinya sebagai kelas a, kelas b, dan kelas c.

Saya,termasuk orang yang berpendapat,kalau apreasi dan penghargaan kepada jurnalis bukan pada kedudukan strukturalnya. Saya menghormati para jurnalis,entah ia,reporter,juru kamera,editor, redaktur,produser, hingga pemimpin redaksi, pada value dan magnitudo karya jurnalistiknya.

Saya akan sangat terkagum-kagum jika seorang jurnalis mampu membuat sebuah liputan yang berpijak pada prinsip-prinsip dasar jurnalisme,kemudian melahirkan sebuah mahakarya,yang membuat sebuah makna bagi kehidupan umat manusia.

Jadi, kalau ada orang yang bertanya kepada saya, kepada siapa jurnalis harus setia?maka jawabnya, kepada profesinya sendiri.Ya,saya termasuk personal yang loyalis pada profesi jurnalis ini….

*****
bandung 1 februari 2008
buat jurnalis yang selalu tidak bangga akan profesinya kepada anak-anaknya.

Tidak ada komentar: