Rabu, 27 Februari 2008

IRONI

Semakin bertambah usia membuat orang semakin arif dan dewasa.

BENARKAH? entahlah. Tapi belakangan ini, saya melihat sejumlah jurnalis,yang dengan alasan semakin bertambah usianya, kemudian berkeluarga, punya anak dan bahkan punya cucu, tiba-tiba menjadi lebih “melunak” pada keadaan.Apakah ini,yang disebut sebagai sebuah kearifan,atau kedewasaan atau justru dalih dari ketidakberdayaan.

Kemarin,seorang sahabat saya,yang juga salah seorang jurnalis,kemudian bercerita tentang hidupnya. Menurutnya, sejalan dengan usianya, ia sekarang menjadi realistis. Bahkan ketika ia dikaruniai seorang anak yang lucu, ia kemudian menjadi pragmatis. Dulu, ia adalah seorang aktifis pers. Kami sering sama-sama turun ke jalan. Tapi kini, ia mengaku dengan polosnya, kalau ia sudah tidak lagi menolak amplop. Katanya,asal jangan meminta atau memaksa.

Menurutnya, Bertambahnya umur, membuat seseorang bisa menjadi permisif. Lebih bijaksana, dalam melihat persoalan.Ia pun kemudian memberikan beberapa perspektif tentang amplop bagi wartawan.

Saya tertegun, dan kutatap matanya dalam-dalam. Tapi justru, dia balik menatap mataku.”Sampai kapan kamu bertahan. Kamu memang masih enteng.belum punya istri dan anak. Sekarang semua serba mahal, anak-anakku perlu sekolah sementara saat ini,semuanya serba sulit. Gaji saya sebagai jurnalis,hanya bisa menghidupi diriku sendiri,” katanya.

Kembali aku tertegun. Lamat-lamat, dari jauh ia kemudian membisikkan kata-kata.’ Sobat seiring berjalannya waktu, seseorang bisa berubah? Manusia selalu kalah dengan perjalanan waktu.Lihat saja,sudah berapa teman-teman jurnalis, yang karena faktor usianya,akhirnya tidak bisa berkelahi dengan waktu.Mereka kemudian hidup kompromi pada keadaan.

Tidak cukup sampai disitu. Ia malah menertawaiku. “Eh, kamu itu dari dulu selalu di lapangan. Sejak 15 tahun silam, kamu selalu menjadi anak buah, ikut kehujanan saat hujan, bermalam di lapangan terbuka,berjalan kaki diteriknya panas, bahkan lupa pacar yang menunggumu. Sadarkah dirimu, semua jurnalis se angkatanmu, sekarang sudah tidak ada yang dilapangan, dan tidak segila kamu,” imbuhnya.

Lagi-lagi saya tertegun. Dan belum sempat saya menjawab, dia malah kembali menimpali. “Jika hidupmu begini. Tidak akan ada gadis yang mau jadi istrimu,dan orang tua yang mau jadi mertuamu.Sudah berapa kekasih yang meninggalkan dirimu ,dan menikah dengan orang lain.Itu sudah jawaban,kalau sudah sepantasnyalah kamu mereposisi diri.Saya tidak mengguruimu,tapi ini fakta,” katanya.

*****

Sepekan berlalu, saya akhirnya menemukan jawabannya. Jawabannya adalah : Kita tetap tidak boleh dikalahkan oleh waktu.Saya kemudian mengirimkan sebuah sms kepada sahabat saya. Kataku, amat naïf menjadikan umur sebagai alasan seseorang untuk tidak memiliki integritas. Integritas,seharusnya tidak boleh dikalahkan oleh waktu, keluarga, kedudukan, dan materi.

Integritas, itu, adalah gaya hidup sehari-hari.Ia bukan makhluk yang harus diperhadapkan pada justifikasi tentang bagaimana seorang jurnalis harus berkompromi pada keadaan.Sejatinya, integritas itu adalah konsistensi akan keteguhan pada nilai-nilai,yang kita yakini sebagai sebuah keyakinan.

Jadi seharusnya janganlah berlindung , atas nama apapun. Lalu mengabaikan kontribusi moralitas. Sebab, hanya orang-orang yang kalah, orang-orang yang terjebak dalam rutinitasnya yang akhirnya menyerah dan takut kehilangan. Pada akhirnya, status,kekayaan, bukanlah tujuan akhir seseorang.

Pilihannya memang sulit. Hidup tapi mati, atau Mati dalam kehidupan. Sahabat saya sejak dua pekan lalu sesungguhnya telah mati, dan telah kukuburkan dia tanpa batu nisan.Selamat jalan kawanku!!!

Makassar,
Rabu dinihari
27-2-2008

Tidak ada komentar: