Kamis, 10 Januari 2008

DEDIKASI

Ujian terberat yang dijalani nurani manusia mungkin adalah kesediaannya untuk mengorbankan sesuatu hari ini untuk generasi yang akan datang, yang ucapan terima kasihnya tidak akan terdengar…. Gaylord Nelson (New York Times)

******
Dua tahun lalu, tepatnya desember 2006. Seorang reporter,yang baru lulus di bangku kuliah mengirimkan sms kepadaku: “gerangan apakah yang bisa membuat seorang jurnalis dikenang selain karya jurnalistiknya,”tanyanya. Lalu kujawab “Dedikasi, tanpa pamrih,” kataku.

Jawaban ini, mungkin tidaklah sepenuhnya benar. Namun sms itu, membuat aku terhentak. Wah anak ini,luar biasa. Dia baru saja sarjana,meski jam terbangnya sebagai jurnalis kampus sudah tahunan. Saya mengenalnya, sebagai jurnalis kampus di almamaterku dulu.Tapi dia sudah menanyakan sesuatu hal yang sesungguhnya perlu proses selama tahunan.

Jurnalis-jurnalis muda saat ini, memang sudah berbeda zamannya. Literatur mereka paripurna, interaksi dengan professor serta para peneliti,membuat wawasan mereka jauh melampaui zamannya. Karenanya,meski mereka masih muda,saya selalu menaruh respek sama mereka. Saya selalu menghargai pemikiran-pemikirannya, termasuk sikap dan prinsip hidup berjurnalisnya.

Sampai disitu saya sangat percaya mereka, kalau mereka bisa bertahan dalam logika hidup ini.Termasuk ketika mereka berbeda sikap denganku.Saya bahkan sangat bangga,dan sering kali tersenyum dan bergembira dalam hati, jurnalis-jurnalis muda ini,sudah punya sikap sendiri.Satu hal yang sangat mengharukan dan sangat personal bagi saya.

Tapi ketika waktu berjalan, tepatnya Januari 2008, sang reporter yang pernah mengirimiku sms itu, siang tadi, kembali mengsmsku. “Saya baru tahu,kalau dedikasi itu sulit di tengah tingginya harga sembako.Saya tidak tahu lagi sampai kapan saya bertahan. Apakah saya bisa dikenang atau tidak, saya hanya ingin bertahan,” tulisnya.

Sms ini, membuat saya tersontak bukan kepalang. Secepat itukah dia berubah? Lalu dimana, semua teori-teori pemihakannya, dan cita-citanya menjadi jurnalis yang tangguh. Padahal baru beberapa waktu lalu, ia bercerita kepada saya, akan cita-citanya, untuk bisa menjadi jurnalis yang baik dan benar.

Kali ini, saya hanya terdiam. Lalu, saya hanya bisa memberinya sebuah jawaban sms.”kita tidak boleh kalah oleh waktu. Ketika kita sudah menyerah pada kondisi, dan mengabaikan nurani,sesungguhnya kita sudah mati. Jadi, tetaplah semangat kawanku. Saat ini masih tahun baru, malah hari ini adalah tahun baru islam 1429 Hijriah.Kita jangan sampai kalah,”tulisku. Malam ini, 10 Januari, aku mencoba menatap tajam mata hati sang reporter itu. ******

Tidak ada komentar: