Sabtu, 01 Desember 2007

JALAN SUNYI

...pak ketua,persatu desember,saya aggt no 1998MKR00318,menyatakan akan menggugat aji mks atas kasus pelanggaran kode etik (kebocoran dana pdam yang diduga melibatkan anggota aji), secara terbuka ke aji Indonesia. Langkah ini saya tempuh setelah pengurus aji mks tidak secara tegas dan cepat melakukan upaya penegakan citra organisasi. Terima kasih.

***

Pesan singkat (SMS) ini aku kirimkan ke Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar Andi Fadly pada hari sabtu I Desember 2007 sekitar pukul 16.30 wita. Selang beberapa menit kemudian pesan ini aku kirim ke Sekertaris Jenderal AJI Indonesia, Abdul Manan di Jakarta. BISMILLAH…sebelum aku mengirimkannya sore tadi.

KALI ini aku harus bicara terbuka dan memilih sendirian. Keputusan ini aku ambil setelah hampir dua bulan lamanya pengurus Aji Kota Makassar tidak mengambil keputusan tegas atas dugaan keterlibatan salah seorang anggota Aji Makassar dalam kasus ini.

Skandal ini,cukup membuat citra Aji Makassar anjlok di titik nol. Bayangkan, bagaimana mungkin Aji yang selama ini berkoar-koar tentang penegakan anti amplop malah anggotanya diisukan terlibat menerima uang dari PDAM. Anehnya,pengurus terkesan “mengulur-ulur waktu”.Jadilah Aji menjadi “omongan” dimana-mana.

Kasus ini,memang masih perlu diuji kebenaran formalnya.Apalagi sampai saat ini Dewan Etik Aji Makassar masih terus menunggu hasil kerja tim bentukan pengurus. Namun ketika sejumlah LSM anti korupsi sudah melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Negeri Makassar, KPK, dan ICW, integritas Aji Makassar,sebagai lembaga yang terkenal berdedikasi menjadi tercoreng moreng.

Dan harus diakui skandal yang disebut PDAM gate inipun menjadi anti klimaks perjuangan Aji Makassar. Segala daya dan upaya yang dibangun susah payah sejak tahun 1996 di kota ini,seolah-olah menjadi sirna. Aji Makassar sudah kiamat. Toh satu-satunya aset Aji yaitu integritas sudah dibunuh oleh anggotanya sendiri.

***

Keputusan ini,tentu sangat tidak popular di kalangan sebagaian anggota dan pengurus Aji termasuk ke pihak-pihak yang diduga terlibat dalam PDAM gate.Apalagi pihak yang diduga terlibat adalah sahabat secara personal.

Sungguh butuh berhari-hari melakukan perdebatan bathin sebelum akhirnya berani Tapi ini adalah resiko. Bagaimanapun juga organisasi harus diselamatkan. Kita tentu tidak ingin sejarah mencatat dan kita membiarkan Aji Makassar karam di depan mata. Sebab jika kondisi ini dibiarkan,maka akan terjadi demoralisasi massal di tubuh AJI Makassar.

Terlebih lagi jika hal ini berubah menjadi preseden buruk bagi para wartawan-wartawan baru yang butuh patron ideologi.

Tapi tentu langkah ini akan sangat mahal harganya. Bahkan, teramat mahal. Makanya,karena “cost social”nya akan sangat mahal,maka kali ini aku memilih tidak melibatkan siapa-siapa,meski aku tahu,ada banyak jurnalis di Kota Makassar,khususnya anggota AJI Makassar,yang peduli pada organisasi.

Biarlah lorong ini, disusuri sendirian,sehingga jika ada riak yang timbul,tidak berimplikasi ke yang lain.Meminjam Istilah Pram, kali ini aku memilih Jalan Sunyi...

Makassar 1 Desember 2007
Pukul 23.30 wita

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Kawan, teruskan perjuanganmu... kamu tidak sendirian...masih banyak sosok seperti seorang Upi, meskipun tidak berada di Makasar.. jika tidak ada keberanian untuk merubah atau mengembalikan visi misi AJI ke khittahnya sesuai DEKLARASI SIRNAGALIH, jika tidak ada yang berani menentang, lalu siapa lagi yang akan menyelamatkan organisasi dari virus pragmatis? meskipun konskuensi harus dibayar mahal secara sosial...karena sudah pasti ada kerenggangan diantara sahabat sesama jurnalis, tapi kita harus berpikir secara jernih, organisai lebih penting.