Sabtu, 17 November 2007

WACTH DOG

SEJATINYA, menurut Prof Merril, pemerintah dan pers, adalah dua lembaga yang saling bertentangan. Pemerintah selalu ingin mempertahankan dan menjaga keseimbangan kekuasaannya, sementara pers selalu mengkitik kebijakan pemerintah yang tidak popular.Pada lazimnya, pers terkadang menjadi “watch dog” bagi setiap kebijakan pemerintah. Suatu hal yang sesungguhnya tidak disukai kekuasaan,yang menginginkan stabilitas.

Konsep Watch Dog,atau anjing penggonggong, dalam teori pers konservatif, adalah suatu domain dimana media massa, memposisikan diri,sebagai lembaga yang mengontrol kebijakan-kebijana publik pemerintah, termasuk perilaku-perilaku negatif para pejabat. Aliran konservatif ini selalu,bahkan cenderung memiliki kecurigaan-kecurigaan bahwa kekuasaan identik dengan korupsi. Tidak heran, jika peranan Watch Dog, kerap dijadikan sebagai salah satu pilar demokrasi,yakni sebagai penjaga kepentingan masyrakat, selain yudikatif,legislative dan Eksekutif.

Dalam konteks lokal di Sulawesi Selatan,terpilihnya Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan periode 2008-2013, patut menjadi rujukan penting sebuah petisi ujian,apakah media massa,khususnya media massa lokal bisa menjadikan dirinya sebagai Watch Dog sejati?

Tentu, hanya waktu yang akan bisa menjawab. Namun kita patut menggarisbawahi,apakah media massa, terutama sekali lagi media massa lokal,yang secara proximity punya tanggungjawab moral lebih ,bisa melakukan fungsi kontrol tersebut????

Makassar,minggu dinihari18/11/2007

Tidak ada komentar: