Sabtu, 15 September 2007

MENYUSUP KE OEKUSI, WINI DAN BETUN (reportase sederhana dari tapal batas batas)

APAKAH yang pertama-tama harus dilakukan wartawan ketika memasuki suatu kawasan penuh konflik? Inilah pertanyaan yang sangat menggoda saat pesawat merpati dari Denpasar Bali mendarat di Bandara El Rai Kupang Nusa Tenggara Timur, 15 Sepetember 1999 silam.


Perjalanan dari Kupang menuju Tapal batas Timtim dan NTT, yakni segitiga perbatasan yang katanya menjadi tempat pelarian dan persembunyian faksi-faksi yang bertikai yakni Atambua dan di Kabupaten Belu serta Wini. Dan Kefamenanu di Kabupaten Timor Tengah Utara yang berbatasan langsung dengan Oekusi Kabupaten Ambeno Timtim benar-benar mencekam.
Disepanjang perjalanan menuju posko utama di kamp pengungsi Kefa bersama tim medis Amda (Asia Medical Doctors of Asia) suara senjata otomatis dan rakitan yang ditembakkan para milisi terdengar disana-sini. Hilir mudik kendaraan militer serta para milisi bersenjata dari berbagai kesatuan sayap militer pasukan pejuang integrasi (PPI) dengan wajah sangar sembari menenteng berbagai senjata dari berbagai kaliber membuat suasana berubah lain. Sesekali mungkin karena stres mereka menembakkan senjata seenaknya.
Tiba di Kefa aksi pembunuhan yang diduga dilakukan pasukan falintil, menyambut kedatangan kami, pasukan sipil sayap militer Dewan Nasional Perlawanan Timor Leste (CNRT) pimpinan Kayrala Xanana Gusmao yang sudah masuk ke wilayah Kupang sudah melakukan terror di NTT. Tujuannya jelas melakukan aksi balas terhadap keluarga TNI dan POLRI serta para milisi pro otonami pimpinan Jao Silva Tavares dan Eurico Guteres yang melarikan diri ke NTT.
Jantung sempat berdetak kencang ketika menuju ke Atambua kabupaten Belu, yang memang menjadi pintu keluar ribuan pengungsi dan kelompok militer PPI yang berasal dari berbagai daerah di Timtim.
Di Atambua, bau mesiu menebar aroma. Suara tembakan dan rintihan korban tertembak dan luka-luka bahkan meninggal yang setiap saat dilarikan ke Rumah Sakit Belu menjadi pemandangan rutim. Sayang RSU ini dokter dan perawatnya sebagian sudah mengungsi karena kerap didatangi milisi. Di RSU ini malah banyak pasien yang meninggal karena karena sementara dioperasi tiba-tiba puluhan milisi masuk ke ruang operasi dan mengancam para dokter untuk tidak melanjutkannya hanya karena pasien tersebut berada dikelompok berbeda.
Selain kekurangan obat dan tenaga medis, tingkat kematian di RSU ini memang tergolong cukup tinggi. Mengingat begitu rawannya situasi di RSU ini sehingga banyak milisi yang dirujuk ke Kefa yang memang tingkat keamananya sedikit lumayan.
Di sini juga tidak ada aturan perangnya. Pernah, tepatnya 22 september Falintil menghadang konvoi pengungsi dari kabupaten Ainaro Timtim yang menuju Atambua tepatnya di Jembatan Batta sekitar 40 Km dari Atambua.
Enam milisi dari kesatuan Mahidi pimpinan Caenxiu Da Carfalho termasuk ratusan pengungsi luka-luka dan satu tewas. Menurut beberapa milisi dan sumber-sumber militer para milisi yang bertikai sama sekali tidak mempunyai tatakrama pertempuaran. Mereka sering membantai penduduk yang tidak berdosa.
Di Betun apalagi, saban hari ada saja yang tewas baik dari kalangan pengungsi biasa maupun para milisi yang tertembak. Malah disinilah basis Laksaur merancang serangan sporadis terhadap pasukan INTERFET pimpinan Mayjen Peter Cosgrove karena daerah ini berbatasan langsung dengan Kovalima Timtim.
Menyisir perbatasan di Kovalima yakni sepanjang kecamatan Malaka tengah, Malaka Barat dan Timurpun meski ekstra hati-hati. Paling tidak harus dikawal penduduk setempat. Pertempuran sporadis antara pasukan interfet di perbatasan dengan milisi Pro Kemerdekaan (Prokem) melawan PPI terus saja berlangsung. Di sini bukan saja milisi menjadi korban tapi banyak pengungsi yang sering menjadi sasaran.
Selain di Belu daerah paling banyak pembataian manusia sebenarnya di Oekusi Timtim yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kupang, TTU dan TTS. Daerah yang memang entah kenapa terpisah dari Timtim ini paling banyak terjadi pemabantaian. Sejak pecahnya perang sipil yang terjadi di Timtim pasca jajak pendapat awal September 1999, saya yang sempat masuk dua kali ke daerah tersebut dan mengikuti operasi pembersihan orang-orang yang terperangkap disebuah kawasan perbukitan Kuatet sekitar 60 Km dari arah utara base camp di Kefa, sungguh mengerikan.
Untung ada seorang kawan yang banyak membantu dalam memasuki kawasan itu. Di Oekusi Ambeno, kota yang telah dibumi hanguskan ini betul-betul hancur total. Dua kubu prokem dan pro otonomi benar-benar saling menghabisi. Di sini nyawa manusia tidak jauh beda dengan binatang, sadis dan memuakkan. Terasa susah menuliskannya. Apalagi mendifinisikannya dari aspek HAM.
Di Wini juga demikian halnya malah disinilah pusatnya milisi Mahidi dan Aitarak. Kedua kelompok ini termasuk pihak-pihak yang disebut terlibat dalam pembunuhan wartawan asing dari Belanda itu. Aktivis Medicine Saus Frontiers (MFS) Belgia sendiri nyaris celaka setelah nekat masuk ke daerah tersebut. Masih banyak cerita miris yang membuat wartawan trauma jika mengingatnya kembali. Kita sebagai peliput malah sebenarnya selalu berusaha untuk tidak lagi mengingat-ingat kejadian yang terkadang entah sadar atau tidak kita juga terlibat secara emosional.
Meliput di Tapal Batas memang sedikit berbeda dengan wartawan yang meliput di Dili. Jika para wartawan yang masuk di Dili itu diberi jaminan khusus oleh penguasa militer maka para wartawan yang meliput di perbatasan betul-betul mengandalkan pada kemampuan melakukan lobi kepada pejabat militer dan para tokoh-tokoh masyarakat serta para pimpinan milisi.
Adanya jaminan khusus utamanya para wartawan nasional dari pihak TNI yang berada dalam pengawalan, meskipun pada tanggal 27 September Mayjen Kiki Sjahnakrie selaku asisten operasi kepala staf TNI AD sudah tidak memberi jaminan keamanan terhadap wartawan khususnya pers nasional yang belakangan tetap diberi pengamanan khusus membuat mereka lebih leluasa mengcover peryataan pejabat tersebut sempat membuat iri wartawan tapal batas. Sebab liputan di tapal batas semata-mata mengandalkan diri sendiri serta liputan dari lapangan setelah dengan susuah payah berusaha membangun kepercayaan dari pihak milisi tanpa adanya jaminan, apalagi pengawalan.
Di Tapal batas yang umumnya adalah milisi PPI sekarang front Perjuangan Bangsa (FPB) wartawan Indonesia juga dituntut waspada jika mengakses keberbagai milisi, seperti Laksaur dari kabupaten Kovalima, Aitarak Dili, BMP Liquisa, Ablai Manufahi, Sakunar Oekusi, Makiki Junior 59 75 Vieuqueque, Halilintar, Dadorus Merah Putih Lospalos, Saka Sera Baucau, AHI Ailiu, Mahidi Ainaro dan Mahadewi Mantuto. Sebab ditapal batas terdapat ribuan anggota Falintil, yang meakukan penyamaran.
Simpulannya, konflik di Timtim memang berbeda dengan perang militer pada lazimnya. Jika pada perang militer jelas siapa-siapa saja yang bertikai, maka perang sipil di bekas porvinsi termuda RI itu, wartawan sangat sulit mengenali kelompok milisi mana ia berasal. Karena sering juga Falintil mengenakan atribut merah putih yang diikatkan di kepala atau lengan yang ternyata mereka gunakan kesempatan membunuh. Demikian sebaliknya. Ini sering terjadi.
Di tapal batas pula, tidak ada konvensi yang berlaku, bahwa wartawan harus dilindungi. Karenanya meliput ditapal batas lebih banyak menyamarnya ketimbang menunjukkan diri sebagai wartawan. Saya nyaris celaka saat seorang Danton di Sakunar ternyata sangat benci wartawan dan bermaksud memenggal leher wartawan Indonesia yang dinilainya banyak merugikan mereka. Untungnya, saya yang berada di Kamp Naen, tidak memperkenalkan diri sebagai wartawan, tapi sebagai petugas LSM. Selamatlah saya!
Hikmahnya apa? Benar teori jurnalistik yang diajarkan di bangku kuliah, seorang wartawan harus mengutamakan keselamatannya terlebih dahulu sebelum meliput. Buat apa meliput, kalau akhirnya kita harus tewas. Hikmah lainnya, mungkin sudah saatnya dipikirkan mencari suatu formulasi baru tentang sering partisannya wartawan dalam meliput.
Partisan itu bias terjadi karena sang wartawan tidak menanggalkan atribut sosial, politik, dan ideologinya ketika meliput. Sehingga laporan-laporannya sering bias hanya karena kebetulan sang wartawan seorang nasionalis atau seorang yang berideologi tertentu. Biasnya laporan wartawan ini, selain akan menyulitkan wartwan lain dalam meliput, juga akan berdampak tidak Cover Both Sidenya suatu liputan. Ini sering terjadi, liputan wartawan Indonesia di Timtim, masih sering bias dalam melihat kasus Timtim. Misalnya tentang Interfet dan TNI. Media nasional sangat kelihatan berpihak kepada TNI, hanya karena mereka ingin dicap sebagai seorang nasionalis. Tapi mereka secara tidak sadar, banyak fakta dan kebenaran jurnalistik yang telah terabaikan. Dan ini telah mengingkari semangat netralitas media yang hanya berpihak kepada fakta. Fakta dan kebenaran.
Mungkin saatnya dibuka diskursus tentang wacana yang menempatkan fakta dan kebenaran itu sebagai ideologi para jurnalis. Pertanyaan inilah yang selalu menghantui pikiran saya, hingga saya kembali tiba di Makassar, awal oktober 1999.
Suatu liputan yang penuh hikmah, terutama dalam menentukan apakah profesi yang telah dijadikan pilihan hidup ini, bisa menjadi sebuah ideologi baru, yang tujuannya menyelamatkan dan memajukan umat manusia, tanpa melihat latar belakang politik, budaya, sosial, dan ideologinya. Sebab, jika ia menjadi sebuah ideologi baru, seorang jurnalis benar-benar bisa menjadi pengabdi pada publiknya, yaitu memberikan informasi yang sebenar-benarnya tanpa adanya tendensi atribut yang melekat dari pribadi wartawan baik dari segi politik, ideologi dan sosialnya.

(tulisan ini disajikan dalam Diskusi Evaluasi Pemberitaan HAM yang diselenggarakan Forbes Wartawan Makassar dan The Freedom Forum, di Makassar 21 Maret 2000)

Tidak ada komentar: