Rabu, 12 September 2007

MARHABAN YA RAMADHAN (antara jurnalis,fakir miskin dan yatim piatu)

.......BUKA PUASA ADALAH BENTUK LAIN DARI AMPLOP.........


TULISAN ini pernah kutulis di papan tulis kantor AJI di Jalan Beruang Makassar, dua tahun lalu. Saya "terpaksa" menulis kata-kata itu,setelah sejumlah teman-teman AJI di Kota Makassar, sangat rajin mengikuti undangan berbuka puasa,yang diadakan setiap instansi baik pemerintah dan swasta. termasuk perseorangan,atau kelompok orang atau organisasi sosial kemasyarakatan.

saya merasa sangat heran, mengapa para jurnalis yang sesungguhnya sudah punya gaji yang cukup memadai, masih juga dengan sangat antusias,mengikuti acara buka puasa bersama tersebut.

beragam alasan para jurnalis mengikuti buka puasa bersama. Mulai dari alasan penghematan hingga silaturrahmi.Tapi sejak tulisan itu kubuat dan keesokan harinya menghilang dari papan tulis, aku selalu tidak menemukan jawaban, mengapa jurnalis mau mengikuti undangan buka puasa bersama dengan jawaban yang logis.

Pertama, hampir semua wartawan yang diundang mengikuti buka puasa bersama, adalah orang media, misalnya saudara anu dari media anu. amat jarang atau bahkan tidak ada undangan berbuka puasa yang ditujukan kepada saudara anu, tanpa embel media anu. artinya undangan buka puasa ditujukan buat media. dan setiap undangan seperti ini pasti punya tendensi. tendensi yang dibungkus dengan nilai-nilai agama,seperti berbagai kebahagiaan, berbagai pahala hingga silaturrahmi. Artinya apa, undangan buka puasa ditujukan kepada saudara anu,karena kita adalah jurnalis. Artinya, kalau anda bukan jurnalis, pastilah anda tidak akan diundang. Jadi kalau memang alasannya mau berpahala, mengapa pula harus mengundang wartawan. bukankah di luar sana, banyak anak yatim, kaum fakir dan janda-janda yang juga layak diberi buka puasa?


Kedua, hampir semua undangan buka puasa, dilakukan dengan menyertakan fakir miskin, yatim piatu dan wartawan. Saya melihat dalam bulan suci ramadhan, ada tiga golongan yang layak mendapat buka puasa. Mau bukti? lihat saja spanduk buka puasa bersama, yang kerap dipajang"... selamat datang pada acara buka puasa bersama antara anak yatim piatu,fakir miskin dan wartawan...." Sejujurnya ini hal lucu dan menyedihkan. Saya pernah menuliskan sebuah anekdot,kalau bulan puasa juga membawa berkah bagi jurnalis. Bulan puasa juga telah meninggikan derajat para kuli tinta. Para jurnalis di bulan suci ini sama dengan fakir miskin dan yatim piatu.

Ketiga, hampir tidak bisa dijelaskan dengan baik, kalau buka puasa bersama dijadikan sebagai alasan untuk mempererat talisilaturrahmi. sebab, silaturrahmi bisa dilakukan dimana saja, kapan saja. Dan ada apa dengan buka puasa? jawabnya sederhana, agama sering bisa dimanfaatkan untuk membuat segala sesuatunya menjadi samar-samar. seperti saja misalnya amplop itu adalah sedekah atau yang memberi mendapat pahala dst.dst.dst...

ARTINYA, bisa saja, buka puasa itu dijadikan sebagai salah satu bentuk amplop terselubung. sama saja,ketika sejumlah instansi pemerintah dan swasta,baik perorangan atau perkelompok mengirimkan paket lebaran dan tunjangan hari raya. Entah apa alasan yang menyertainya, tapi menurut saya, buka puasa, paket lebaran dan thr, adalah salah satu cara untuk mengebiri kebebasan jurnalis dalam bersikap. Tentu beragam cara dilakukan untuk membuat jurnalis menjadi lunak atau bersahabat dengan narasumbernya.Jadi.....???

( marhaban ya ramadhan...12/9/2007/pukul 22.29 wita)

Tidak ada komentar: