Kamis, 06 September 2007

JURNALISME INFOTAINMENT, SEBUAH IRONI?!

Infotainment sesungguhnya bukanlah praktek jurnalisme, ia hanya memehuni selera public saja.bukan pada kepentingan public.

Entah apa yang ada dibenak para pengelola media televisi,sehingga mereka begitu getol membuat atau menayangkan tayangan infotainment. Kalau alasannya karena rating,--rating ini sejenis tuhan baru di industri televisi--, maka yang patut kita pertanyakan, kesalahan sejarah apalagi yang telah dilakukan media massa di Indonesia?

Infotainment disebut sebagai gabungan dari kata information dan entertainment. Program yang mulai dipopulerkan oleh Ilham Bintang melalui Bulletin Sinetron di TVRI pada 1994, yang kemudian melahirkan Cek and Ricek, Hallo Selebrity, dan Croscek di sejumlah televisi swasta, ini kini menjadi salah satu tayangan yang menjamur di hampir semua televisi.

Saking populernya, maka jika ada gaya jurnalisme baru yang begitu populer saat ini —jika memang infotainment dikategorikan sebagai produk jurnalisme—maka infotainmentlah hasilnya. Infotainment malah sudah menjadi trendsetter di mana-mana. Agenda setting media massa di tanah air,khususnya media televisi, dipenuhi dengan cerita-cerita artis yang sesungguhnya lebih banyak menceritakan soal kehidupan pribadi mereka.Sesuatu yang justru bersifat privacy.

Pemirsa kita disuguhi tayangan-tayangan rahasia pribadi para selebriti kita, mulai dari gaya hedonisme mereka, cara pacaran mereka, pernikahan terselubung mereka, perselingkuhan mereka, pisah ranjang mereka,perceraian mereka, hingga kemampuan seks mereka.Semuanya dijadikan tontotan, yang entah disadari oleh para pemilik media, sebagian para penontonnya,adalah remaja-remaja putri ,anak-anak di bawah umur,yang belum tentu punya daya saring yang baik.

Tak ketinggalan pula,ramalan-ramalan para paranormal yang ikut meramaikan layar kaca. Bahkan ada beberapa stasiun televisi yang secara khusus meminta komentar mereka,tentang masa depan artis a dan artis b. Sungguh suatu ironi, di mana praktek-praktek jurnalistik menggunakan paranormal sebagai narasumber. Suatu hal yang paradoks dengan tradisi jurnalistik yang kental dengan fakta.

Saking merajainya produksi-produksi infotainment ini, dari segi kuantitas mereka bisa mengalahkan jumlah tayangan-tayangan berita regular pada stasiun televisi kita.

Namun yang paling fenomenal yang tak sempat terpikirkan oleh mungkin siapapun juga, adalah pengaruh infotainment itu terhadap perilaku kalangan rumah tangga, yang memang menjadi sasaran infotainment. Anak-anak sekarang,seperti yang dilansir Harian Kompas Edisi 26 Januari 2006 silam, sudah terbiasa dengan kata-kata,--maaf jorok---seperti “kutukan”, “anak durhaka”, “nikah siri”, “selingkuh”, “istri simpanan” suatu bahasa yang amat jarang digunakan oleh media massa kita sebelumnya.

Bahkan yang lebih parah lagi,media televisi,melalui tayangan infotainment, sudah membiasakan diri,untuk tidak melakukan kehati-hatian dalam pengungkapan bahasa-bahasa santun. Di tayangan infotainment yang kita tonton setiap pagi,siang,sore dan malam hari, anak-anak kita sudah sangat terlalu biasa dengan kata-kata “kondom basah”, “Penipu”, “sodomi “, hingga “guna-guna”



Ini artinya apa, infotainment yang begitu dibangakan para pemilik stasiun televisi, telah menjadi virus baru dalam kebudayaan populer indonesia. Jadi secara pribadi ini,bukanlah tontonan rakyat—sebagaimana yang ditulis Frans Sartono---tapi suatu infiltrasi budaya,--entah itu disengaja atau tidak--yang mengatasnamakan dirinya jurnalisme informasi dan hiburan.

Sebuah Ironi

Masih dalam tulisan Frans Sartono yang dimuat di Harian Kompas. Menurutnya saat ini saja terdapat tak kurang dari 26 acara infotainment. Dalam sehari tersuguh 15 sampai 23 tayangan infotainment di sembilan stasiun televise. Yang berarti dalam seminggu tak kurang dari 150 tayanganyang disodorkan kepada pemirsa.

Itu berarti,para keluarga kita,yang umumnya berdiam di rumah,seperti kalangan ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, adalah yang paling rentan akan tayangan infotainment,jika memang mereka penikmat acara televisi.

Praktek jurnalisme infotainment ini memang tidak lazim. Sebab dari berbagai literatur jurnalistik, rana privacy yang dibuka tanpa pertimbangan kepentingan umum, adalah hal yang tidak patut dimediamassakan.Masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu alasan apapun,kenapa kehidupan “ranjang” artis mesti dipublikasikan.Apa urgensi dan dampaknya bagi masyarakat umum?

Dalam tradisi jurnalistik, hak privacy boleh dilanggar sepanjang itu menyangkut untuk kepentingan umum, dan untuk memenuhi rasa tanggungjawab sosial.Masalahnya, hingga saat ini, para kru infotainment belum bisa memberikan penjelasan apapun, apakah criteria mereka memberitakan ruang privacy para artis.

Anehnya, para pemilik stasiun televisi ini terkesan menutup mata. Malah berlomba-lomba bahkan bersaing untuk menampilkan rahasia-rahasia pribadi artis kita,bahkan kalau perlu membuatnya lebih terbuka selebar-lebarnya. Ada indikasi keberhasilan tayangan infotainment ternyata diukur sejauh mana mereka berhasil mengungkap rahasia pribadi paling dalam sang artis.

Tidak heran jika,para kru infotainment, berlomba-lomba, mengejar narasumbernya yang tak lain adalah para artist itu sendiri,melebihi cara kerja pada jurnalis politik, bahkan para peliput investigasi sekalipun. Kita bisa menyaksikan mereka,harus bermalam,kalau perlu memanjat pagar hanya untuk meminta keterangan sang artis.

Bandingkan dengan kerja para jurnalis kita pada umumnya,yang juga kalau mau jujur,lebih banyak berkerumunnya,menunggu si pejabat anu bicara dan setelah itu ramai-ramai diberitakan.

Kondisi ini merupakan suatu ironi.dimana semangat meliput para kru infotainment jauh lebih nekat dengan para jurnalis kita yang sesungguhnya.Dan lebih ironi lagi,ketika, tayangan infotainment jauh lebih diminati ketimbang tayangan para jurnalis yang mengaku dirinya penyambung lidah rakyat.

(tulisan ini kubuat pada sebuah pertemuan dengan seorang kru infotainment pada sebuah Kafe di Jakarta Februari 2006 silam)

1 komentar:

Ardita mengatakan...

Konon infotainment Asia terkenal galak. Tapi sampai kapan?